Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #21

Chapter 21

Pagi di lingkungan sekolah Katolik itu selalu dimulai dengan ritme yang nyaris sakral: lonceng pertama berbunyi seperti bisikan yang sopan namun tegas, memecah kesunyian koridor. Anak-anak berbaris dengan seragam putih-biru yang masih licin, belum sempat kusut oleh hiruk-pikuk hari, dan udara pagi masih menyimpan sisa embun yang seolah enggan pulang ke langit. Di tengah halaman, patung Bunda Maria berdiri dengan keanggunan yang abadi, menatap dunia dengan ketenangan yang tidak pernah tergesa-gesa oleh kecemasan manusia mana pun.

Di dalam kapel kecil yang letaknya agak menyempit di sudut sekolah, Ester duduk di salah satu bangku kayu yang sudah mengilap oleh usia. Ia berada di sana lebih lama dari rutinitas biasanya.

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela kaca patri, memecah warna menjadi serpihan biru, merah, dan keemasan di atas lantai keramik yang dingin. Bau lilin yang terbakar dan aroma kayu tua memenuhi paru-parunya, membawa jenis ketenangan yang tidak gaduh, namun sangat berisi. Ester tidak berdoa dengan kalimat-kalimat panjang yang disusun rapi. Tidak ada permintaan mukjizat yang muluk-muluk. Hanya ada satu kalimat yang terus ia ulang seperti mantra di dalam hatinya: Berilah aku ketenangan untuk menerima, bukan sekadar jawaban yang terlihat sempurna.

Ia menyadari bahwa ia sudah cukup lelah dengan segala kemungkinan yang menggantung. Selama berminggu-minggu, ia telah mengukur segala sesuatu dengan cermat, setiap kata yang keluar dari mulut Alex, setiap sikap yang ditunjukkan Doni, bahkan detak jantungnya sendiri yang seringkali tidak konsisten. Ia tahu bahwa perasaan seringkali menjadi penipu yang ulung. Ia juga mulai memahami sebuah kebenaran pahit bahwa hidup bukan hanya soal siapa yang mampu membuat hati bergetar hebat, tetapi tentang siapa yang bersedia tetap tinggal dan memegang tanganmu ketika getaran itu akhirnya mereda.

Doni tidak pernah menjanjikan langit atau bintang-bintang. Pria itu hanya selalu ada, nyata, sabar, dan tidak pernah menuntut lebih dari apa yang sanggup Ester berikan saat itu. Dan justru ketulusan yang membumi itulah yang selama ini membuat Ester sempat gentar.

Ia mengangkat kepalanya, menatap salib kayu yang menggantung di atas altar sederhana. Dalam keheningan yang pekat itu, sebuah kesadaran muncul dengan sangat jernih: ia tidak sedang mencari sebuah kisah cinta yang dramatis untuk dituliskan dalam sebuah novel. Ia hanya sedang mencari sebuah "rumah". Sebuah tempat pulang yang tidak akan membuatnya terjaga setiap malam hanya untuk bertanya-tanya tentang kepastian.

Ketika ia akhirnya berdiri dan membuat tanda salib terakhir dengan jemarinya yang dingin, hatinya memang tidak mendadak seringan kapas. Namun, ia tahu satu hal pasti, hari ini ia harus berhenti bersembunyi di balik doa-doanya. Ia harus melangkah keluar dan memberikan sebuah kepastian.

Doni sudah menunggu di bawah pohon flamboyan yang dahan-dahannya menaungi gerbang sekolah. Tubuhnya berdiri tegap dengan postur yang sangat stabil, buah dari disiplin latihan bertahun-tahun sebagai seorang atlet beladiri yang tangguh. Ada otoritas dalam cara ia berdiri, dan sorot matanya jarang sekali menunjukkan keraguan.

Sebagai seorang petarung, Doni sudah terbiasa menghadapi lawan yang tangguh di atas matras. Namun pagi ini, lawan yang ia hadapi jauh lebih sulit daripada pukulan fisik manapun: ia sedang menghadapi kemungkinan ditolak secara halus. Ketika ia melihat sosok Ester berjalan mendekat dengan langkah yang terukur dan wajah yang tenang, dadanya yang biasanya kebal terhadap rasa takut mendadak terasa menyempit, membuatnya kesulitan mengatur napas.

“Pagi, Ester,” sapa Doni. Suara yang biasanya terdengar tegas dan bariton itu kini sedikit melunak, hampir terdengar ragu.

“Pagi, Don,” jawab Ester singkat.

Tidak ada pembukaan yang panjang. Tidak ada basa-basi yang berlebihan untuk mengulur waktu. Mereka berdiri dalam jarak yang sangat sopan, seperti dua orang dewasa yang sepenuhnya sadar bahwa apa yang akan dibicarakan kali ini akan mengubah arah hidup mereka selamanya. Ester menatap Doni lurus-lurus. Tatapannya tidak mengandung gejolak seperti saat ia menatap Alex; tatapan ini jauh lebih stabil dan jujur.

“Aku sudah memikirkan semuanya dengan sangat matang, Don,” Ester memulai pembicaraan.

Doni tetap diam, tidak mencoba menyela. Di dalam ring, ia belajar sebuah prinsip penting: menunggu momentum yang tepat jauh lebih krusial daripada bergerak tergesa-gesa namun tanpa arah.

“Aku tidak ingin memilih seseorang hanya karena aku takut sendirian. Aku juga tidak ingin memilihmu karena rasa kasihan,” lanjut Ester dengan nada yang tenang namun berbobot. Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan. “Aku memilihmu karena aku percaya padamu.”

Kalimat itu sebenarnya sangat sederhana. Tidak puitis. Tidak dramatis. Namun bagi seorang pria seperti Doni, kata-kata itu terasa lebih kuat daripada sorak-sorai kemenangan di sebuah kejuaraan dunia.

“Kamu sabar. Kamu sangat jelas dengan niatmu sejak awal. Kamu tidak pernah membuatku merasa ragu sedikit pun tentang posisiku di hidupmu.” Mata Ester sedikit menghangat saat ia menatap wajah Doni yang tampak tegang. “Dan aku menyadari bahwa aku butuh seseorang yang bersedia berdiri di sampingku, bukan seseorang yang hanya datang dan pergi sesuka hatinya.”

Doni tidak langsung meledak dalam kegembiraan. Ia hanya mengangguk pelan, sebuah gestur penerimaan yang sangat dalam, seolah-olah ia baru saja menerima sebuah mandat suci yang harus ia jaga dengan nyawanya sendiri.

Lihat selengkapnya