Hari-hari setelah keputusan Ester itu terasa seperti sebuah lorong panjang yang remang, tanpa penunjuk arah yang jelas, namun harus tetap ditapaki.
Alex tetap bangun pada jam yang sama setiap pagi. Ia masih menyetrika kemeja kerjanya dengan lipatan yang sangat rapi, seolah-olah ketertarikan visual bisa menutupi kekacauan di dalamnya. Ia tetap berangkat ke kantor bank sebelum jam operasional dimulai, melintasi gerbang dengan langkah yang terjaga. Dari luar, nyaris tak ada yang berubah. Ia masih menyapa satpam dengan anggukan sopan yang khas, masih mengisi daftar absensi dengan tinta hitam yang mantap, dan masih menunduk fokus di depan layar monitor komputer sepanjang hari.
Namun, di dalam rongga dadanya, ada sebuah ruang yang terasa seperti sebuah rumah yang baru saja ditinggalkan penghuninya secara mendadak. Sunyi, berdebu, dan dingin.
Ia tidak lagi terjaga di malam hari hanya untuk menunggu pesan yang tak kunjung tiba. Ia telah memutuskan untuk berhenti mengecek ponselnya setiap beberapa menit. Secara logika, ia sudah menyerah. Ia telah menerima kenyataan bahwa Ester telah memilih jalannya. Namun hati manusia seringkali menyerupai anak kecil yang keras kepala; ia tidak pernah patuh sepenuhnya pada perintah otak, ia masih sering kali mencari-cari alasan untuk sekadar merindukan apa yang sudah hilang.
Bank, dengan segala rutinitasnya yang kaku, menjadi tempat bagi Alex untuk menenggelamkan diri. Suara mesin hitung uang yang ritmis, denting notifikasi dari sistem pusat, dan derap sepatu di atas lantai marmer yang dingin menjadi latar suara yang menenangkan jiwanya yang sedang gaduh. Angka-angka di layar tidak pernah berubah pikiran. Mereka jujur. Mereka tidak memiliki perasaan. Mereka tidak akan pernah memilih orang lain secara tiba-tiba.
Dan di tengah semua kepastian angka itu, ada satu sosok yang selalu berada di koordinat yang sama.
Maria.
Wanita itu datang dengan kerapian yang selalu konsisten. Wangi parfum yang bercampur dengan aroma kopi samar selalu mengikuti langkahnya. Rambutnya disanggul sederhana, memberikan kesan leher yang jenjang dan rapi. Tatapannya tetap tajam, sebuah perpaduan antara profesionalisme perbankan yang kaku dan kelembutan seorang kakak yang jarang bisa bersatu secara harmonis.
Maria tidak pernah menanyakan kabar Alex dengan nada yang berlebihan atau penuh selidik. Ia hanya berkata, “Selamat pagi, Alex,” dengan nada suara yang stabil, seolah ingin meyakinkan pria itu bahwa dunia selalu bisa ditangani jika kita tetap berkepala dingin.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, Maria menyadari sebuah pola baru. Alex lebih sering berada di dekat meja kerjanya. Pria itu datang bukan dengan alasan yang selalu mendesak. Kadang ia hanya bertanya tentang detail transaksi kecil yang sebenarnya bisa ia putuskan sendiri. Kadang ia hanya berdiri di dekat sana sambil membolak-balik dokumen, seolah-olah ia sedang menunggu sebuah instruksi yang sebenarnya tidak kunjung ia minta.
“Kamu sepertinya sedang rajin sekali berkonsultasi belakangan ini, Alex?” tanya Maria suatu siang, nada suaranya dihiasi sedikit nada bercanda yang halus.
Alex tersenyum tipis, sebuah senyum yang belum sepenuhnya mencapai matanya. “Hanya ingin belajar lebih teliti agar tidak melakukan kesalahan fatal lagi.”
Maria hanya mengangguk, namun ia tahu itu bukan keseluruhan jawabannya. Sebagai wanita yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, ia paham betul bahwa ada tipe orang yang mendekat bukan karena mereka tidak mampu berdiri sendiri, melainkan karena mereka sedang tidak sanggup untuk merasa sendirian di tengah keramaian.
Sore itu, hujan turun dengan rintik yang tipis. Bukan jenis hujan badai yang memaksa orang-orang untuk berlari mencari perlindungan, melainkan hanya gerimis yang membuat udara Jakarta terasa lebih dingin dan lembap dari biasanya.
Alex menunggu di lobi bank sedikit lebih lama dari yang diperlukan. Ia duduk di kursi tunggu tamu, menatap butiran air yang menempel di kaca jendela.
“Kamu belum pulang, Alex?” tanya Maria saat ia melangkah keluar dari ruang operasional, tas tangannya sudah tersampir di bahu.
“Sedang menunggu hujan reda sebentar,” jawab Alex ringan, meski ia tahu payung ada di dalam tasnya.
Maria melirik jam tangannya, lalu menatap ke luar jendela kaca. “Aku juga belum ingin langsung pulang,” katanya pelan. “Jika kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita makan sesuatu dulu? Warung di depan gang dekat sini sepertinya masih buka.”
Ajakan itu terasa sangat sederhana. Tanpa beban emosional yang berat, tanpa ada kesan sedang merayu. Hanya dua rekan kerja yang sama-sama enggan pulang ke kesunyian masing-masing.
Alex mengangguk setuju.
Warung makan itu kecil dan sederhana. Meja-meja kayunya memiliki tinggi yang tak seragam dan permukaannya sudah agak memudar. Lampu kuning temaram menggantung rendah di tengah ruangan, memberikan kesan hangat yang hampir menyerupai suasana di dalam sebuah rumah. Aroma sup panas, gorengan, dan sambal terasi bercampur menjadi satu, mengisi ruang sempit itu dengan kesederhanaan yang jujur.
Mereka duduk berhadapan. Tidak ada percakapan besar tentang cinta yang kandas atau kehilangan yang menyakitkan. Maria tidak pernah menyebut nama Ester. Ia tahu betul bahwa nama itu saat ini menyerupai luka yang baru saja mulai mengering; satu sentuhan yang salah bisa membuatnya kembali berdarah. Sebagai gantinya, Maria hanya bertanya tentang hal-hal remeh yang membumi.