Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #23

Chapter 23

Hujan turun tanpa aba-aba sore itu, seperti sebuah perasaan yang tumbuh tanpa izin dan tanpa peringatan.

Langit di atas gedung bank mendadak menggelap, berubah dari kelabu pucat menjadi warna jelaga yang pekat tepat saat jam kerja hampir usai. Pegawai-pegawai bank mulai berhamburan keluar, beberapa berlarian kecil menuju area parkir sambil melindungi kepala dengan tas kerja, sementara yang lain mengeluh karena jemuran di rumah pasti belum sempat diangkat. Bau tanah basah yang khas naik perlahan dari celah trotoar, menyelinap di antara polusi udara kota, membawa sensasi dingin yang asing.

Maria baru saja melangkah keluar dari lobi ketika titik-titik air mulai jatuh dengan frekuensi yang semakin rapat dan deras.

“Sepertinya hujan besar akan bertahan lama,” ujar sebuah suara bariton yang sudah sangat ia hafal.

Maria menoleh dan menemukan Alex berdiri tak jauh darinya. Pria itu tampak tidak membawa payung, hanya mengenakan kemeja kerjanya yang masih rapi. Maria pun sama; ia lupa meletakkan payung panjangnya di mobil pagi tadi.

Dalam hitungan detik, hujan berubah menjadi tirai air yang sangat tebal, mengaburkan pandangan ke arah jalan raya. Mereka berdua secara serempak mundur ke bawah kanopi kecil di samping pintu keluar darurat. Ruang itu sempit, cukup untuk dua orang berdiri bersisian, namun tidak cukup luas untuk menjaga jarak profesional yang biasa mereka terapkan.

Air hujan memercik keras ke lantai marmer, hingga ke ujung sepatu mereka. Angin yang bertiup kencang membawa butiran uap air yang dingin menyentuh permukaan lengan mereka yang terbuka.

“Kalau tahu begini, tadi kita pulang lebih cepat lima menit saja,” kata Alex sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

Maria tersenyum tipis, menatap lurus ke arah hujan. “Hidup memang jarang memberikan pemberitahuan di awal, Alex. Kadang kita dipaksa berhenti saat sedang ingin berlari.”

Kalimat itu terdengar ringan, namun di antara deru hujan, segalanya terasa memiliki bobot yang lebih berat dari biasanya. Dinding air yang deras itu menciptakan semacam isolasi di sekeliling mereka. Dunia di luar terlihat kabur, bayangan kendaraan yang melintas hanya tampak seperti kilatan lampu yang tertelan gemuruh air. Untuk beberapa menit, seolah-olah realitas telah menyusut; hanya ada mereka berdua di ruang sempit itu.

Alex berdiri sangat dekat. Bahu mereka hampir bersentuhan. Maria bisa merasakan hangat tubuh Alex yang menjalar secara samar, kontras dengan udara sejuk yang mulai menusuk tulang.

“Dingin?” tanya Maria pelan, tanpa menoleh.

“Sedikit,” jawab Alex singkat.

Tanpa berpikir panjang, Maria membuka tas tangannya dan mengeluarkan payung kecil lipat yang selalu ia simpan di sana untuk keadaan darurat. “Kalau kita cuma berdiri di sini, mungkin baru bisa pulang malam nanti,” katanya. “Mau coba jalan pelan-pelan ke depan? Mungkin ada taksi atau angkutan yang lewat.”

Payung itu tidak besar, hanya cukup untuk satu orang dewasa jika ingin benar-benar kering. Namun, ketika Alex membuka payung itu dan mereka melangkah keluar dari lindungan kanopi, jarak di antara mereka otomatis lenyap.

Alex memegang gagang payung dengan tangan kanannya. Maria berdiri sangat dekat di sisi kirinya. Bahu mereka benar-benar bersentuhan sekarang, ritme langkah mereka menjadi satu. Langkah mereka pelan, berhati-hati menghindari genangan air yang mulai meninggi di trotoar. Hujan memantul dari permukaan aspal seperti ribuan jarum kecil yang jatuh serentak dari langit.

Untuk beberapa ratus meter pertama, mereka hanya diam. Bukan karena rasa canggung yang memalukan, melainkan karena ada sesuatu yang terlalu penuh di dalam dada mereka masing-masing untuk segera diterjemahkan ke dalam kata-kata.

“Aku dulu selalu berpikir,” Alex akhirnya memulai pembicaraan, suaranya terdengar lebih rendah dan dalam, bersaing dengan suara hujan yang memukul kain payung di atas kepala mereka. “Bahwa jika aku berusaha cukup keras, jika aku menjadi versi terbaik dari diriku, orang yang aku inginkan pasti akan menoleh dan melihatku.”

Lihat selengkapnya