Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #24

Chapter 24

Malam itu, restoran kecil di sudut jalan yang biasanya terasa hangat kini seolah berubah menjadi lebih sunyi dan steril dari biasanya.

Bukan karena tempat itu sepi pengunjung. Meja-meja kayu di sana tetap terisi penuh oleh pasangan-pasangan yang asyik berbincang, suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen tetap terdengar konstan, dan musik instrumental mengalun pelan dari pengeras suara tua di sudut langit-langit. Namun, di antara Doni dan Ester, ada sebuah ketenangan yang terlalu rapi. Terlalu tertata. Sebuah suasana yang menyerupai adegan yang sudah dilatih berkali-kali sebelum dipentaskan.

Doni duduk dengan postur tubuh yang sangat tegap. Sebagai seorang atlet beladiri yang terbiasa dengan disiplin fisik yang ketat, ia membawa otoritas itu bahkan dalam hal-hal sekecil cara ia memegang gelas air mineral. Punggungnya lurus, rahangnya tegas, dan tatapannya selalu langsung, sebuah kejujuran yang tanpa filter.

Ester duduk tepat di seberangnya. Rambutnya dibiarkan tergerai sederhana, membingkai wajahnya yang tampak lelah namun tenang. Sebagai seorang guru, ia memiliki pembawaan yang sangat terkendali; ia memilih setiap kata yang akan diucapkannya seperti sedang memilih buku bacaan untuk murid-muridnya, penuh pertimbangan dan kehati-hatian.

“Aku baru saja mendapat kabar dari pelatih sore tadi,” ujar Doni membuka percakapan, memecah kesunyian yang sempat menggantung. “Turnamen regional bulan depan ternyata dimajukan lebih awal.”

Ester tersenyum kecil, sebuah reaksi yang sopan. “Itu kabar baik, kan? Artinya persiapanmu selama ini tidak akan sia-sia.”

“Iya. Tapi itu juga artinya jadwal latihanku akan menjadi jauh lebih padat dari biasanya.”

Doni mengatakannya tanpa nada keluhan sedikit pun. Ia mencintai setiap tetes keringat yang jatuh di atas matras latihan. Bagi Doni, rasa sakit fisik adalah bahasa yang paling mudah ia pahami dan taklukkan. Baginya, sebuah pukulan atau tendangan jauh lebih sederhana untuk dihadapi daripada kerumitan perasaan manusia yang seringkali tidak memiliki aturan main yang jelas.

“Kamu tidak merasa terlalu capek?” tanya Ester dengan nada yang sangat lembut.

Doni menggelengkan kepala dengan mantap. “Rasa capek itu biasa dalam perjuangan. Yang paling penting bagiku adalah arahnya jelas. Aku tahu apa yang sedang aku kejar.”

Kata "jelas" itu seolah melayang di udara, bergema lebih lama dari yang seharusnya di telinga Ester.

Makanan mereka datang. Sup hangat yang mengepul di antara mereka menciptakan tirai uap tipis yang sesaat mengaburkan pandangan satu sama lain. Ester memegang sendoknya, namun pikirannya terasa sedang berkelana ke tempat yang jauh, di luar dinding restoran ini.

Doni memandang Ester dengan intensitas yang dalam, lalu ia menarik napas panjang. Ia tampak seperti seorang petarung yang sedang bersiap memasuki ronde paling menentukan dalam hidupnya.

“Aku mulai memikirkan sesuatu yang berbeda akhir-akhir ini, Ster,” katanya dengan nada suara yang berubah menjadi lebih berat dan serius.

Ester menatap mata Doni, memberikan perhatian penuh tanpa menyela.

“Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku hanya dengan berpindah dari satu turnamen ke turnamen berikutnya tanpa tujuan yang lebih besar,” lanjut Doni. “Aku mulai memikirkan rencana jangka panjang.”

Ia mulai menjabarkan visinya. Tentang tabungan yang sudah mulai terkumpul, tentang mimpinya membuka dojo atau tempat latihan beladirinya sendiri suatu hari nanti, dan tentang sebuah rumah kecil yang sederhana, tidak perlu mewah, namun cukup untuk menampung dua orang yang saling percaya.

Ester mendengarkan setiap detail itu. Ia tidak memprotes, tidak pula menolak. Di wajahnya hanya terlukis sebuah ketenangan yang sangat sopan.

Lalu, kata yang paling berat itu akhirnya muncul dari mulut Doni.

“Menikah.”

Doni mengucapkannya dengan cara yang sangat maskulin; tanpa dramatisasi yang berlebihan, tanpa cincin yang dikeluarkan secara tiba-tiba di depan umum, dan tanpa sorot lampu yang berubah warna. Kata itu hadir begitu saja, seperti sebuah langkah logis yang paling alami setelah perjalanan panjang yang mereka tempuh.

“Aku sudah membayangkannya,” kata Doni pelan, suaranya mengandung sebuah harapan yang murni. “Kita menikah di sebuah gereja kecil yang tenang. Tidak perlu pesta yang besar dan melelahkan. Cukup dihadiri keluarga dan orang-orang terdekat yang benar-benar mengenal kita.”

Lihat selengkapnya