Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #26

Chapter 26

Retret tahunan sekolah itu berlangsung di sebuah rumah pembinaan sederhana yang terletak cukup jauh di luar kota, di mana sinyal ponsel mulai sering timbul-tenggelam dan suara bising knalpot digantikan oleh gesekan daun-daun pinus. Bangunannya tidak megah, bahkan terkesan sangat bersahaja, temboknya bercat putih gading yang di beberapa sudut mulai mengelupas, menceritakan usia tempat itu yang sudah menampung ribuan pencarian jiwa. Halaman depannya sangat luas, didominasi oleh pohon-pohon tua dengan akar-akar besar yang menonjol di atas tanah, menyerupai urat-urat waktu yang mengukuhkan keberadaannya.

Udara di sana berbeda dengan Jakarta yang pengap. Udara di sini terasa lebih bersih, lebih dingin, dan seolah-olah memiliki ritme yang jauh lebih pelan.

Ester turun dari bus terakhir bersama rombongan murid-muridnya. Remaja-remaja SMP itu tampak sangat riuh; mereka membawa tas-tas besar yang melebihi ukuran tubuh mereka dan energi yang seolah-olah tidak akan pernah habis meskipun perjalanan cukup melelahkan. Mereka tertawa terlalu keras, saling dorong dengan akrab, dan sesekali memanggil namanya dengan nada antusias yang khas.

“Bu Ester, kamar kami yang sebelah mana?”

“Bu, boleh tidak kalau saya satu kelompok dengan sahabat saya?”

Ester hanya bisa tersenyum simpul, menjawab pertanyaan mereka satu per satu dengan kesabaran yang terjaga. Sebagai guru di smp Katolik, ia sudah terbiasa menjadi jembatan antara kegaduhan masa muda dan keheningan ruang doa. Ia dengan telaten mengatur pembagian kamar, memastikan daftar hadir tetap lengkap, memeriksa kesiapan konsumsi, dan yang paling krusial, memastikan tidak ada murid yang diam-diam menyelundupkan ponsel tambahan di dalam tas mereka.

Di mata para murid, Ester adalah sosok yang sempurna. Ia tenang, tegas saat diperlukan, namun selalu memberikan kehangatan yang membuat mereka merasa aman.

Hari pertama retret berjalan dengan alur yang sederhana namun padat: sesi refleksi pribadi, permainan dinamika kelompok yang seru, dan misa pembukaan yang dipimpin oleh seorang pastor paroki setempat yang sudah sepuh namun tetap bersemangat. Lagu-lagu nyanyian mengalun sangat lembut di dalam kapel kecil yang berdiri menyendiri di sisi bangunan utama. Cahaya matahari sore menembus kaca-kaca patri sederhana, memantulkan warna-warna pastel yang tenang di atas lantai keramik yang dingin.

Ester berdiri di barisan paling belakang, mengamati punggung murid-muridnya sambil memastikan mereka mengikuti ibadah dengan khidmat.

Ia menyanyikan lagu-lagu rohani itu dengan bibir yang bergerak otomatis; nada-nadanya sudah ia hafal di luar kepala sejak ia masih kecil. Suaranya stabil, namun pikirannya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidak sepenuhnya tinggal di dalam ruangan itu. Saat salah satu murid berdiri di mimbar dan membacakan doa tentang masa depan, tentang keberanian untuk memilih jalan hidup yang dikehendaki Tuhan, sesuatu di dalam dada Ester bergetar dengan cara yang menyakitkan.

Ia menunduk, menghindari tatapan salib di depan sana.

Retret ini seharusnya didedikasikan sepenuhnya untuk anak-anak itu. Tentang membantu mereka mengenali panggilan hidup, mengenal diri sendiri lebih dalam, dan belajar untuk menemukan keheningan di tengah dunia yang sudah terlalu bising. Namun malam itu, setelah sesi api unggun berakhir dan tawa riuh murid-muridnya mulai mereda, setelah satu per satu dari mereka masuk ke kamar dan lampu mulai dipadamkan, Ester justru merasa dirinyalah yang sedang diletakkan di bawah mikroskop refleksi.

Ia berjalan perlahan, sendirian, menuju kapel kecil di ujung halaman.

Lampu di dalam kapel tidak dinyalakan seluruhnya. Hanya ada beberapa batang lilin yang menyala remang di dekat altar, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding kayu. Bangku kayu panjang itu terasa sangat dingin saat Ester mendudukinya. Di luar, suara jangkrik bersahut-sahutan dengan konsisten, menciptakan jenis kesunyian yang justru terasa sangat hidup.

Ester menunduk dalam-dalam. Tangannya terlipat rapat di depan dada. Matanya terpejam.

Lihat selengkapnya