Hari itu, operasional bank berjalan dengan ritme yang sangat mekanis, persis seperti hari-hari sebelumnya.
Mesin hitung uang terus berdengung di balik meja teller, menciptakan latar suara yang konstan. Suara merdu mesin nomor antrean berbunyi teratur, memanggil satu demi satu nasabah yang datang dengan wajah tergesa-gesa dan pergi dengan ekspresi yang beragam, beberapa lega karena urusannya tuntas, beberapa tampak kecewa karena terkendala prosedur. Maria berdiri di posisinya dengan sikap yang sangat terjaga; rapi, terukur, dengan senyum profesional yang tak pernah terlalu lebar, namun tak juga terlalu tipis hingga terkesan dingin.
Ia sudah sangat terlatih untuk memisahkan antara gejolak perasaan pribadi dan tuntutan pekerjaan. Di dunia yang penuh dengan angka, verifikasi, dan transaksi, hati manusia memang tidak pernah diberikan tempat untuk bersuara.
Namun pagi itu, jauh sebelum jam istirahat tiba, radar intuisi Maria menangkap sesuatu yang tidak biasa pada sosok Alex.
Secara fisik, tidak ada yang berubah. Kemejanya tetap licin, pekerjaannya diselesaikan dengan akurasi yang tetap tinggi. Tapi ada yang berbeda pada cara Alex sesekali melirik jam tangannya, terlalu sering untuk seseorang yang biasanya tenggelam dalam fokus. Ada yang berbeda pada caranya berdiri dari kursi, lalu duduk kembali seolah-olah kursi itu mendadak menjadi tidak nyaman.
Dan yang paling jelas adalah bagaimana Alex bereaksi terhadap setiap notifikasi ponselnya. Pria itu akan langsung menoleh, meskipun hanya sekilas, dengan tatapan yang penuh dengan antisipasi yang terselubung.
Gelisah.
Maria mengenali jenis kegelisahan itu dengan sangat baik. Itu bukan kegelisahan seorang pegawai yang takut target bulanannya tidak tercapai, atau ketakutan akan teguran atasan. Itu adalah kegelisahan yang lahir dari penantian panjang terhadap seseorang yang sangat berarti.
“Sepertinya kamu sedang menunggu kabar penting, Alex?” tanya Maria dengan nada ringan saat Alex melewati meja kerjanya untuk menyerahkan berkas laporan.
Alex memberikan senyum yang terlalu cepat, senyum defensif. “Ah, tidak juga, Maria. Hanya perasaanmu saja.”
Jawaban itu keluar terlalu spontan. Maria tidak mengejar lebih jauh. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang sopan, lalu kembali menundukkan kepalanya, pura-pura tenggelam dalam barisan angka di layar monitornya. Namun, di dalam kepalanya, tanda tanya itu mulai tumbuh.
Saat jam istirahat akhirnya tiba, para pegawai berhamburan keluar. Beberapa menuju warung makan langganan di belakang gedung, beberapa lebih memilih duduk di pantry sambil menunggu pesanan antar. Maria berniat berjalan ke minimarket di seberang jalan untuk membeli beberapa keperluan kecil. Ia menyampirkan tas tangannya, lalu melangkah keluar melewati pintu kaca bank yang dingin.
Dan di sanalah, di tengah teriknya matahari Jakarta, ia melihatnya.
Alex sedang berdiri di seberang jalan, tepat di bawah naungan pohon rindang yang meranggas. Ia tidak sendirian.
Seorang wanita berdiri tepat di hadapannya.
Maria mengenal wajah itu. Ia tidak pernah diperkenalkan secara resmi, namun ia cukup mengenalnya dari serpihan cerita yang tak pernah selesai diutarakan Alex, dari sorot mata Alex yang berubah setiap kali sebuah nama terselip dalam pembicaraan. Itu adalah Ester.