Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #28

Chapter 28

Ajakan itu terdengar sangat ringan, meluncur begitu saja di antara percakapan telepon yang singkat. Hampir seperti sebuah kebetulan yang tidak disengaja, namun bagi mereka yang terlibat, mereka tahu tidak ada yang benar-benar kebetulan dalam urusan hati.

“Sekalian saja kita bertemu,” kata Doni sore itu melalui sambungan telepon kepada Alex. Suaranya mantap, bergema dengan kepercayaan diri seorang pria yang tidak pernah ragu pada langkahnya sendiri. “Sudah terlalu lama kita tidak duduk makan bersama.”

Sudah lama. Sebuah kalimat yang sangat aman. Sebuah tameng yang tidak menyebutkan siapa yang dulu memilih pergi, siapa yang tertinggal dalam kehancuran, dan siapa yang kini datang sebagai pemenang dalam perlombaan komitmen.

Restoran yang dipilih Doni mencerminkan karakternya: bata ekspos yang kokoh, lampu kuning temaram yang memberi kesan hangat namun tegas, dan musik instrumental yang mengalun pelan, cukup untuk membuat orang merasa nyaman, tapi tidak cukup keras untuk menenggelamkan suara-suara di dalam kepala masing-masing.

Meja untuk empat orang di sudut ruangan itu terasa sedikit terlalu kecil ketika mereka semua sudah berkumpul.

Doni datang lebih dulu bersama Ester. Doni mengenakan kemeja katun sederhana, lengan bajunya digulung sedikit hingga batas siku, memperlihatkan lengan seorang atlet beladiri yang terlatih dan disiplin. Ia berdiri tegak, bahunya lebar seolah selalu siap memikul beban atau menghadapi pertandingan apa pun yang datang padanya.

Ester duduk di samping Doni. Ia tampak rapi dengan balutan blus berwarna pastel. Sebagai guru, ia terbiasa menjaga sikap dan ekspresi wajahnya, bahkan ketika jiwanya sedang tidak berada di tempat yang sama dengan raga yang duduk di kursi itu. Tangannya bertumpu tenang di pangkuan, namun matanya sesekali melirik ke arah pintu masuk dengan intensitas yang tertahan.

Tak lama kemudian, Alex dan Maria datang bersamaan.

Maria mengenakan blus dengan potongan elegan berwarna lembut. Senyumnya sudah siap sejak dari lobi, sebuah senyum yang sudah ia latih selama bertahun-tahun melayani nasabah di bank. Senyum yang sanggup membuat orang di hadapannya merasa aman tanpa pernah tahu badai apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di balik tatapan matanya.

Alex berjalan satu langkah di belakang Maria. Seperti biasa, ia tidak berusaha mencuri perhatian. Ia hadir seperti udara; ada, namun seringkali tidak disadari sampai seseorang merasa sesak.

Sapaan pertama terdengar sangat normal, hampir terlalu normal.

“Sudah lama sekali tidak bertemu.”

“Iya, semuanya sedang sibuk-sibuknya belakangan ini.”

Doni menjabat tangan Alex. Genggamannya kuat, mungkin sedikit lebih kuat dari yang seharusnya diperlukan untuk sebuah jabat tangan persahabatan. Alex membalasnya dengan wajar, tidak berusaha menantang kekuatan Doni, namun juga tidak membiarkan tangannya melemah.

Empat kursi kini terisi. Empat gelas air putih diletakkan oleh pelayan. Dan empat orang di sana mulai berpura-pura bahwa ini hanyalah sebuah makan malam biasa antar kawan lama.

Percakapan dimulai dari wilayah-wilayah yang aman dan netral. Mereka bicara tentang beban kerja di bank, tentang kurikulum baru di sekolah, dan tentang jadwal latihan Doni yang semakin intensif menjelang turnamen.

Doni menjadi pusat gravitasi di meja itu. Ia berbicara dengan penuh keyakinan, menceritakan target-targetnya, tentang pelatih barunya, dan tentang pentingnya disiplin dalam hidup. Ia adalah prototipe pria yang tahu persis ke mana arah hidupnya akan melaju.

“Target tahun ini harus lebih tinggi dari tahun lalu,” kata Doni sambil memberikan senyum penuh makna kepada Ester. “Kalau kita mau serius dalam hidup, ya harus sekalian totalitas.”

Ester hanya mengangguk pelan. “Kamu memang selalu serius dalam segala hal, Don.”

Kalimat itu sederhana, namun Maria yang duduk di hadapan mereka menangkap sesuatu yang halus. Bukan sebuah kemesraan yang meledak-ledak, melainkan sebuah komitmen yang sedang dibangun secara sistematis, rapi, dan terencana. Sebuah konstruksi hubungan yang masuk akal.

Alex hanya sesekali menimpali dengan kalimat pendek. “Bagus itu,” atau “Selamat ya untuk pencapaiannya.” Ia tidak banyak bertanya. Ia tidak perlu bertanya; ia sudah tahu cukup banyak tentang kepingan kehidupan yang dulu hampir saja menjadi miliknya sepenuhnya.

Maria duduk di samping Alex, menjaga jarak yang sangat wajar. Ia tidak terlalu menempel pada Alex, namun ia juga tidak membiarkan ada celah yang menunjukkan kerenggangan. Meski tangan mereka tidak bersentuhan di atas meja, ada kesadaran kolektif di ruangan itu bahwa mereka datang sebagai satu paket.

Sesekali, Maria menangkap tatapan Alex yang terlalu cepat dialihkan setiap kali mata pria itu tanpa sengaja bersirobok dengan Ester. Dan Maria tahu benar, tatapan penuh kerinduan yang tertahan itu bukan untuk dirinya.

Makanan pun datang, dan untuk sejenak, denting sendok dan piring menjadi pengisi jeda yang canggung di antara mereka.

Ester mulai bercerita tentang pengalaman retret sekolahnya yang baru saja usai. Ia berkisah tentang seorang muridnya yang menangis saat sesi doa malam karena merindukan orang tuanya.

Lihat selengkapnya