Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #29

Chapter 29

Tiga hari setelah makan malam yang menyesakkan itu, Alex akhirnya menyerah pada satu hal yang paling ia hindari selama ini: sebuah kejujuran yang tidak bisa lagi ditunda, meski ia tahu kebenaran sering kali datang dengan harga yang mahal.

Pesannya singkat, dikirimkan saat jam istirahat baru saja dimulai.

"Apa kamu bisa ketemu sore ini? Di taman lama".

Tidak ada emotikon yang mencairkan suasana. Tidak ada penjelasan panjang lebar yang melatari ajakan itu.

Ester membaca pesan tersebut di ruang guru, di sela-sela tumpukan buku ulangan murid-muridnya yang belum sempat ia koreksi. Jemarinya diam membeku selama beberapa detik di atas layar ponsel yang menyala. Ia tahu persis taman mana yang dimaksud Alex. Tempat itu adalah saksi bisu masa muda mereka; tempat yang dulu sering mereka datangi bertiga, ia, Alex, dan Doni, ketika hidup masih terasa sesederhana memilih rasa es krim, sebelum masa depan datang menuntut keputusan-keputusan yang menguras air mata.

Ester tidak langsung membalas. Ia menatap ke luar jendela kaca, memperhatikan langit Jakarta yang sudah mulai mendung sejak pukul dua siang. Seolah-olah alam sedang mempersiapkan panggung untuk sesuatu yang melankolis.

Akhirnya, dengan helaan napas yang berat, ia mengetik satu kata: Baik.

Taman itu ternyata tidak banyak berubah, seolah-olah waktu sengaja melompati petak tanah ini. Bangku kayunya masih sama, meski lapisan catnya sudah mulai memudar dan baut-baut besinya nampak sedikit berkarat dimakan usia. Pohon-pohon mahoni tua di sana berdiri tegak seperti saksi bisu yang enggan ikut campur dalam urusan manusia yang fana.

Ester datang lebih dulu.

Ia berdiri di dekat bangku kayu itu, tas kerjanya tersampir lemas di bahu. Angin sore membawa aroma tanah kering yang sebentar lagi akan dibasahi hujan. Beberapa anak kecil masih terlihat berlarian di kejauhan, namun langit yang semakin jelaga membuat satu per satu orang tua memanggil mereka untuk segera pulang.

Tempat itu perlahan menjadi sepi. Hanya menyisakan suara daun yang bergesekan.

Ester duduk di ujung bangku. Tangannya terlipat rapi di atas pangkuan, sebuah gestur yang mencerminkan kedisiplinannya sebagai seorang guru, namun kali ini ia merasa seperti murid yang sedang menunggu dipanggil ke depan kelas untuk sebuah ujian yang ia tahu tidak akan bisa ia kerjakan.

Ketika suara langkah sepatu Alex terdengar beradu dengan kerikil jalan setapak, Ester tidak segera menoleh. Ia sudah mengenali ritme langkah itu bahkan sebelum otaknya menyadari siapa yang datang. Itu adalah pengetahuan yang tertanam dalam otot dan memorinya.

Alex berhenti tepat beberapa langkah dari bangku.

“Hai,” sapa Alex.

“Hai,” jawab Ester pelan.

Sapaan yang terlalu biasa bagi dua orang yang membawa beban sejarah yang begitu masif di pundak mereka.

Alex kemudian duduk, menyisakan jarak yang sangat sopan di antara mereka. Jarak itu tidak terlalu jauh untuk disebut sebagai orang asing, namun cukup lebar untuk menegaskan sebuah pernyataan: kita tahu di mana batasnya sekarang.

Beberapa detik pertama hanya diisi oleh suara angin yang menderu. Lampu taman mulai menyala satu per satu secara otomatis, membiaskan cahaya kuning redup yang membuat suasana terasa semakin sunyi.

“Kamu kelihatan sangat capek, Ster,” kata Alex akhirnya, mencoba memecah kebekuan.

Ester tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. “Persiapan retret dan mengoreksi ulangan kemarin cukup menguras tenaga dan pikiran.”

Alex mengangguk paham. Ia teringat kembali pada momen makan malam itu; bagaimana Ester menceritakan murid-muridnya dengan binar mata yang redup. Tentang kejujuran anak-anak yang membuatnya terpukul.

Langit di atas mereka bergemuruh pelan, sebuah peringatan dari alam.

“Aku tidak akan berputar-putar lagi,” kata Alex dengan suara yang rendah namun stabil. “Aku hanya… merasa sangat perlu untuk menemuimu secara pribadi. Tanpa ada orang lain di antara kita.”

Ester menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara dingin. “Aku juga merasakannya, Alex.”

Hening kembali tercipta. Seperti dua orang yang berdiri di tepi sungai yang sedang meluap; mereka tahu arusnya sangat deras, namun mereka belum memutuskan apakah akan nekat menyeberang atau tetap diam di tepian sampai tenggelam.

Lihat selengkapnya