Taman itu sudah berlalu dari jangkauan langkah, namun tidak dari jangkauan ingatan.
Hujan yang mengguyur sore itu sudah lama kering, meninggalkan aroma tanah basah yang kini menguap digantikan debu kota. Bangku kayu yang menjadi saksi bisu itu pun kembali ditempati oleh orang-orang asing, pasangan muda yang tertawa riang atau orang tua yang melepas lelah, yang sama sekali tidak tahu bahwa di atas serat kayu yang sama, dua orang dewasa baru saja mencoba membedah isi dada mereka dengan silet kejujuran.
Namun yang basah ternyata bukan hanya tanah.
Tiga hari setelah pertemuan di bawah hujan itu, Alex menyadari satu hal yang tidak bisa ia manipulasi dengan logika perbankan yang biasanya presisi: kejujuran tidak selalu membawa ketenangan yang melegakan. Kadang, ia justru menjadi kunci yang membuka pintu-pintu yang selama bertahun-tahun telah ia kunci rapat dan ia selubungi dengan debu kesibukan.
Ia tetap bekerja seperti biasa di kantor. Ia berbicara seperlunya dengan rekan kerja, termasuk dengan Maria. Ia tertawa pada saat-saat yang dianggap perlu untuk menjaga citra profesionalismenya. Namun di sela-sela deretan angka dan laporan audit yang membosankan, pikirannya terus saja melesat kembali pada pendar lampu taman yang bergetar diterpa angin. Ia terus mendengar gema suara Ester yang mengaku masih menyimpan sebagian kecil dirinya di sudut hati.
Dan yang paling mengganggu nuraninya, Alex tahu perasaannya sendiri pun tidak bisa diajak berkompromi untuk berbohong.
Malam itu, di dalam kesunyian kamarnya, ia menatap layar ponselnya jauh lebih lama dari yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria dewasa yang rasional. Jempolnya ragu-ragu di atas papan ketik virtual. Sebuah pesan pertama ia ketik dengan penuh pertimbangan, lalu ia hapus kembali. Ia mengetik lagi kalimat yang berbeda, lalu kembali menghapusnya dengan perasaan gusar.
Akhirnya, dengan sisa keberanian yang ada, ia menuliskan kalimat yang paling jujur:
"Aku tahu kita sudah bicara jelas di taman tempo hari. Tapi anehnya, aku merasa belum benar-benar tenang. Apakah kita bisa bertemu sekali lagi?".
Pesan itu terkirim. Statusnya berubah menjadi centang biru dalam hitungan detik.
Beberapa menit yang menyusul terasa seperti satu jam yang menyiksa bagi Alex. Detak jam dinding seolah mengejek keraguannya. Hingga akhirnya, sebuah balasan muncul di layar.
"Alex, kita sudah menumpahkan semuanya di taman. Untuk apa kita bertemu lagi? Bukankah itu hanya akan mempersulit keadaan?".
Kalimat itu sangat wajar. Sangat dewasa. Sangat tegas. Namun, sebagai seseorang yang pernah mengenal Ester lebih dari siapa pun, Alex bisa membaca celah di antara deretan kata-kata tersebut. Jika perasaan itu memang benar-benar sudah mati dan selesai, Ester tidak perlu memberikan jawaban sepanjang itu; sebuah penolakan singkat sudah cukup.
"Aku sama sekali tidak berniat merusak apa pun yang sudah kamu miliki sekarang", tulis Alex lagi, jempolnya bergerak lebih cepat. "Aku hanya sedang tidak ingin berpura-pura menjadi kuat sendirian".
Keheningan kembali menyergap. Sangat lama. Hingga akhirnya, satu pesan terakhir muncul sebagai titik terang sekaligus titik rawan:
"Di kafe kecil dekat sekolahku. Besok sore setelah jam pulang".
Alex memejamkan matanya rapat-rapat setelah membaca itu. Ia tahu persis bahwa ini bukan lagi langkah yang ringan. Ini adalah langkah yang mengundang badai.
Ester sudah duduk di sana lebih dulu saat Alex tiba.
Kafe itu berukuran kecil, terselip di antara bangunan tua, dengan dinding kaca besar yang memantulkan semburat senja Jakarta yang berwarna keunguan. Aroma kopi yang kuat memenuhi ruangan, berbaur dengan musik akustik yang mengalun dengan volume rendah, cukup untuk menyamarkan percakapan dari meja-meja tetangga.
Ester memilih meja di sudut yang paling pojok. Sebuah tempat yang tidak terlalu mencolok bagi pandangan orang yang berlalu-lalang, tapi juga tidak terlalu tersembunyi hingga terkesan mencurigakan. Tangannya terlihat meremas cangkir kopi kosong di hadapannya. Ia bahkan belum memesan minuman baru; ia hanya membutuhkan sesuatu yang solid untuk dipegang agar tangannya tidak gemetar.
Dalam hatinya yang paling dalam, Ester tahu ia seharusnya menolak ajakan ini. Ia sudah memilih Doni. Ia sudah melangkah maju. Namun ada bagian dalam dirinya yang menolak untuk dibungkam hanya dengan sebuah keputusan logis.
Ketika pintu kafe terbuka dan sosok Alex melangkah masuk, waktu seolah-olah melambat selama sepersekian detik di mata Ester. Alex terlihat sama seperti biasanya, sederhana, tenang, dan tertata. Namun, Ester bisa melihat bahwa sorot mata pria itu tidak sepenuhnya stabil; ada riak kegelisahan yang tertahan di sana.
Mereka saling menatap selama beberapa saat sebelum Alex menarik kursi dan duduk.
“Hai,” sapa Alex.