Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #31

Chapter 31

Demam itu datang tanpa peringatan, tepat dua hari setelah pertemuan yang menguras energi di kafe itu.

Bukan jenis demam tinggi yang membakar kulit atau membuat seseorang meracau tak sadarkan diri. Bukan pula jenis yang membuat tubuh benar-benar lumpuh tak mampu berdiri. Namun, suhu tubuh yang meningkat itu cukup untuk membuat setiap persendian terasa berat dan kepala Alex dipenuhi kabut tipis yang membuatnya sulit untuk berkonsentrasi pada hal apa pun.

Alex adalah tipe pria yang jarang sekali jatuh sakit. Ia adalah manusia yang lebih suka menelan bulat-bulat rasa lelahnya demi profesionalisme, bukan mengeluhkannya kepada dunia. Namun pagi itu, ketika ia membuka mata dan melihat langit-langit kamar kosnya seolah berputar pelan dalam poros yang salah, ia tahu tubuhnya sedang melakukan unjuk rasa besar-besaran. Tubuhnya meminta jeda yang mutlak.

Kamar kos itu tampak sunyi dan sederhana di bawah cahaya pagi yang masuk malu-malu. Hanya ada satu tempat tidur dengan sprei yang sedikit berantakan, sebuah meja kecil yang penuh dengan laptop dan tumpukan berkas bank, sebuah lemari pakaian tipis di sudut ruangan, serta dapur mungil yang lebih sering berfungsi untuk merebus air kopi daripada untuk memasak hidangan berat.

Ia berbaring telentang, menatap layar ponselnya yang dingin dengan pandangan nanar.

Dalam kondisi lemah seperti ini, ada satu nama yang secara otomatis muncul dalam benak Alex. Nama yang selalu ia hubungi setiap kali ia merasa sakit atau jatuh selama bertahun-tahun masa mudanya. Dan ternyata, sebuah kebiasaan lama kadang-kadang jauh lebih kuat dan lebih berkuasa daripada logika baru yang sudah ia susun dengan rapi.

Jempolnya bergerak secara intuitif di atas layar.

"Aku sedang demam sedikit". 

Ia tidak menambahkan kalimat manis lainnya. Ia tidak meminta wanita itu datang menjenguk. Ia tidak memohon perhatian atau belas kasihan. Ia hanya ingin menyampaikan sebuah fakta kepada satu-satunya orang yang ia rasa akan benar-benar peduli.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan, hingga akhirnya getaran ponsel terasa di telapak tangannya.

"Kamu sudah minum obat?"

"Sudah".

"Sudah makan"

"Belum ada selera"

Hening kembali merayapi percakapan digital itu. Alex memejamkan matanya, merasa sedikit menyesal telah mengirim pesan tersebut. Namun kemudian, satu pesan terakhir muncul:

"Tunggu".

Alex menatap kata tunggal itu cukup lama. Ia tahu makna di balik kata tersebut. Ia pernah hidup dan bernapas di dalam janji-janji yang terkandung dalam kata "tunggu" yang diucapkan oleh Ester.

Ester berdiri di depan rak sayuran di sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dari sekolah tempatnya mengajar. Tangannya bergerak secara otomatis, memilih bahan-bahan makanan yang dulu selalu ia beli setiap kali salah satu dari mereka jatuh sakit saat masa kuliah.

Beberapa rimpang jahe yang segar. Beberapa siung bawang putih. Telur ayam kampung. Dan sedikit potongan daging ayam untuk dibuatkan sup sederhana yang hangat.

Ia berjalan menyusuri lorong minimarket seperti sedang mengikuti sebuah peta ingatan yang tertanam dalam genetikanya, bukan berdasarkan sebuah keputusan yang sadar. Sepanjang perjalanan singkat menuju rumah kos Alex, pikiran Ester terus-menerus mencoba mencari pembenaran atas tindakannya.

Ini hanyalah tindakan kemanusiaan menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit.

Ini hanyalah sebuah kebiasaan lama yang sulit dihilangkan.

Ini bukan apa-apa. Hanya sup.

Dan entah mengapa, siang itu, nama Doni sama sekali tidak melintas di benaknya sebagai sebuah hambatan. Bukan karena ia melupakan kekasihnya itu. Namun karena ia secara sadar memilih untuk tidak memanggil nama itu ke dalam ruang pikirannya. Ia ingin sejenak menjadi Ester yang dulu.

Alex tersentak dari tidurnya yang tidak nyenyak ketika mendengar ketukan pelan di pintu kamarnya.

Ia bangkit dengan perlahan, menyeret langkahnya yang gontai untuk membuka pintu. Sosok Ester berdiri di sana, membawa kantong belanjaan plastik dan ekspresi wajah yang terlalu familiar bagi Alex, sebuah perpaduan antara kecemasan dan otoritas seorang perawat.

“Kamu kelihatan jauh lebih parah daripada apa yang kamu tulis di pesan,” kata Ester sambil melangkah masuk.

Alex memaksakan sebuah senyum lemah. “Kamu masih tetap suka melebih-lebihkan sesuatu, Ster.”

“Dan kamu masih tetap suka berbohong soal kondisi kesehatanmu,” balas Ester cepat.

Wanita itu melangkah masuk tanpa ada rasa canggung sedikit pun, seolah-olah ia baru saja pergi sebentar dan kini kembali ke tempat yang seharusnya. Kamar kos yang tadinya terasa dingin dan mati itu mendadak terasa lebih hidup dengan kehadiran Ester.

Lihat selengkapnya