Sore itu, halaman sekolah mulai berangsur lengang.
Suara riuh murid-murid yang tadi memenuhi lorong kini tinggal gema samar yang tertinggal di dinding-dinding kelas. Beberapa rekan guru berjalan berpasangan menuju area parkir, mendiskusikan rencana makan malam atau tugas yang belum tuntas. Matahari turun perlahan, menyisakan cahaya jingga pekat yang menempel pada pagar besi hitam sekolah.
Ester melangkah keluar dari gerbang dengan tas kulit tersampir di bahunya. Pikirannya masih sibuk merancang rencana pelajaran untuk besok pagi, ppatau setidaknya, ia sedang berusaha keras membuat dirinya terlihat sibuk di dalam kepalanya sendiri.
Lalu, ia melihatnya.
Alex berdiri di seberang jalan, tepat di depan pagar.
Bukan sekadar bayangan yang tercipta karena kelelahan. Bukan pula salah lihat. Alex benar-benar berdiri di sana, mengenakan kemeja kantor yang sudah sedikit kusut, dengan wajah yang nampak seperti seseorang yang sudah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berpikir dan akhirnya memilih untuk menjadi nekat.
Langkah kaki Ester terhenti seketika.
Dadanya berdebar lebih cepat dari yang ia inginkan. Ada rasa takut yang berbaur dengan antisipasi yang aneh. Ia menghampiri Alex dengan langkah yang dipaksakan untuk tetap terlihat tenang.
“Sedang apa kamu di sini?” tanyanya pelan, suaranya berada di antara rasa terkejut dan ketidakyakinan.
Alex menggeser berat badannya, tampak canggung seperti seorang anak sekolah yang tertangkap basah melanggar aturan. “Aku ingin menemuimu.”
“Kita sudah bertemu kemarin lusa, Alex.”
“Aku tahu.”
Hening sejenak menyergap mereka. Beberapa murid yang masih tersisa melintas di antara mereka berdua, tertawa-tawa tanpa peduli pada ketegangan tipis yang menggantung di udara sore itu.
“Bisa kita jalan sebentar?” tanya Alex.
Ester sempat ragu. Logikanya memerintahkan untuk segera pergi dan pulang ke pelukan Doni yang aman. Namun, kakinya seolah memiliki kemauannya sendiri; ia mulai melangkah mengikuti Alex.
Mereka berjalan menyusuri trotoar panjang di depan sekolah. Pohon-pohon mahoni tua berjajar rapi, daunnya bergerak pelan ditiup angin sore yang kering. Jarak di antara mereka tetap terjaga, tidak terlalu dekat untuk dianggap sepasang kekasih, namun tidak terlalu jauh untuk disebut orang asing.
“Aku ingin minta maaf,” kata Alex akhirnya, memecah kesunyian.
“Untuk apa?”
“Untuk kejadian di kos kemarin. Untuk ciuman itu.”
Langkah Ester sedikit melambat, namun ia menolak untuk menoleh. “Itu memang tidak seharusnya terjadi, Alex.”
“Aku tahu. Aku tidak ingin kamu merasa aku memanfaatkan situasi. Aku sedang sakit, kamu datang dengan niat baik menjenguk... aku tidak ingin itu menjadi alasan bagi tindakanku.”
Ester mendadak berhenti melangkah.
Kali ini ia menoleh sepenuhnya, menatap Alex tepat di matanya. Wajah Ester tidak tampak lembut. Tidak pula nampak hancur. Wajahnya terlihat kosong, seperti sebuah kanvas yang baru saja dihapus paksa.
“Lalu mengapa kamu melakukannya?” tanya Ester dengan nada menuntut.