Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #34

Chapter 34

Sore itu, ruang latihan terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, meskipun suara hantaman samsak dan deru napas para atlet lain masih memenuhi ruangan. Bagi Doni, bau keringat yang bercampur dengan aroma kanvas matras dan debu yang terangkat oleh langkah kaki selalu menjadi rumah kedua. Di sini, segala sesuatu sangat jelas: siapa lawan, siapa kawan, kapan harus menyerang, dan kapan harus bertahan. Hidup di atas matras adalah hidup yang penuh kepastian.

Ia memulai pemanasan dengan hitungan yang sangat disiplin. Lompatan-lompatan kecil, putaran bahu yang ritmis, dan pengaturan napas yang sudah mendarah daging. Seorang atlet tidak boleh membiarkan pikiran menguasai tubuh; tubuh harus patuh pada perintah otak.

Namun hari itu, tubuhnya memang patuh, tetapi pikirannya mengkhianatinya.

Ponselnya yang tergeletak di bangku kayu panjang bergetar. Sebuah pesan dari Ester muncul di layar.

"Maaf ya, hari ini aku langsung pulang saja. Rasanya capek sekali".

Pesan itu singkat. Tidak ada yang salah dengan kalimatnya. Namun, pesan itu juga tidak memiliki kehangatan. Doni menatap layar ponselnya sedikit lebih lama dari biasanya. Dulu, Ester selalu menambahkan sesuatu di akhir pesannya, sebuah lelucon kecil tentang muridnya yang jenaka, cerita tentang anak kelas delapan yang lupa mengerjakan PR, atau sekadar sebuah emoji yang terasa seperti pelukan kecil melalui layar.

Sekarang, pesan itu diakhiri dengan titik yang dingin.

Doni memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan gerakan kaku, lalu kembali ke samsak.

Satu. Dua. Tiga.

Gerakannya tetap presisi, kuat, dan mematikan. Namun, ada jeda mikro yang tidak sinkron antara niat dan hantaman. Sebagai seorang praktisi beladiri, Doni telah melatih dirinya untuk membaca gerak lawan dengan sangat tajam. Bahu yang mengencang berarti sebuah pukulan akan datang; pandangan mata yang turun sepersekian detik berarti ada celah yang terbuka untuk diserang.

Dan akhir-akhir ini, keberadaan Ester di sisinya terasa seperti lawan yang sedang menyimpan sebuah rahasia besar di balik pertahanannya.

Beberapa hari yang lalu, saat mereka duduk berdua di dalam mobil setelah makan malam yang tenang, Doni mencoba menggenggam tangan Ester. Dulu, tangan itu akan segera membalas genggamannya, menekan jemarinya pelan seolah sedang mengatakan: aku di sini, bersamamu.

Kini, tangan itu hanya diam. Ester tidak menarik tangannya, tapi ia juga tidak "pulang" ke dalam genggaman Doni. Tangan itu pasif, dingin, dan terasa sangat jauh meskipun fisiknya berada di sana. Hal-hal kecil semacam ini, terlalu kecil untuk dijadikan dasar sebuah tuduhan, namun terlalu besar untuk diabaikan begitu saja oleh insting seorang petarung.

Malam harinya, mereka bertemu sejenak di depan pagar rumah Ester. Lampu teras yang menyala kuning lembut memberikan suasana yang seharusnya romantis, namun kini terasa melankolis. Ester tersenyum ketika melihat Doni, tetapi senyum itu nampak seperti sebuah tugas yang harus diselesaikan, bukan sebuah ungkapan kebahagiaan.

“Kamu benar-benar sangat capek?” tanya Doni dengan suara pelan dan rendah.

Lihat selengkapnya