Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #35

Chapter 35

Pagi di kantor cabang bank itu berjalan dengan ritme yang terlalu biasa, sebuah kontras yang menyakitkan bagi kekacauan yang sedang terjadi di dalam dada Alex. Pintu kaca otomatis terbuka dengan desis halus yang familiar. Satpam di depan menyapa dengan ramah tamah yang terjaga. Mesin absensi biometrik berbunyi pendek, mencatat kehadirannya sebagai angka dalam sistem.

Namun bagi Alex, setiap langkah menuju mejanya terasa berkali-kali lipat lebih berat dari biasanya. Seolah-olah oksigen di dalam ruangan berpendingin udara itu mendadak berubah menjadi lebih padat, lebih sulit ditembus oleh napasnya yang mulai pendek.

Ia duduk di kursi kerjanya yang ergonomis. Layar komputer menyala, menampilkan wallpaper standar kantor yang membosankan. Angka-angka dalam laporan keuangan mulai berbaris rapi di hadapannya, taat pada rumus Excel dan logika sistem yang absolut. Dunia angka selalu terasa adil dan jujur bagi Alex; dua ditambah dua akan tetap menjadi empat, tidak peduli seberapa sedih atau bingungnya orang yang menghitungnya. Tidak ada perasaan yang diizinkan mengganggu keseimbangan neraka.

Andai saja hati manusia bekerja dengan presisi yang sama, pikir Alex masygul.

Tak lama kemudian, Maria lewat di depan mejanya sambil membawa map biru berisi dokumen kredit. Rambutnya tertata rapi tanpa cela, riasannya tipis namun berkelas. Senyumnya terpasang seperti biasa, cukup hangat untuk menjaga profesionalisme, namun cukup jauh untuk menegaskan batas pribadi yang baru saja ia bangun.

“Pagi, Alex. Laporan evaluasi kredit yang kita bahas kemarin sudah aku kirim ke emailmu, ya,” kata Maria.

Nada suaranya sangat stabil. Tidak ada getaran emosional, tidak terlalu lembut, namun juga tidak terdengar dingin secara sengaja.

“Terima kasih banyak, Maria,” jawab Alex, mencoba menyamakan nada suaranya.

Mata mereka bertemu selama sepersekian detik. Sebuah momen singkat yang dulunya mungkin berisi percikan harapan, namun kini terasa kosong. Lalu, kontak mata itu berakhir. Tidak ada getaran yang tertinggal. Tidak ada pertanyaan yang menuntut jawaban.

Justru ketenangan Maria itulah yang menghantam Alex paling keras.

Maria tidak memilih untuk marah meledak-ledak. Ia tidak menuntut penjelasan panjang lebar, juga tidak menggunakan sarkasme untuk menyindir. Ia hanya… mundur dengan cara yang sangat elegan. Seperti seorang pemain catur yang sadar bahwa rajanya sudah terkepung, lalu memilih untuk meletakkan bidaknya dan menjaga harga dirinya sendiri tetap utuh.

Di situlah rasa bersalah Alex mulai tumbuh subur, berakar dari hal-hal kecil yang tadinya remeh.

Kursi kosong di pantry yang biasanya mereka tempati berdua saat jam istirahat kini nampak begitu luas dan hampa. Cangkir kopi yang kini harus ia seduh sendiri tanpa ada tawa kecil Maria yang menemani. Pesan singkat pengingat makan siang yang biasanya muncul di layar ponselnya kini menghilang, digantikan oleh notifikasi bank yang dingin.

Lihat selengkapnya