Sejak pengakuan Alex yang mengejutkan di depan pagar sekolah sore itu, hati Ester tak pernah benar-benar bisa menemukan kembali ketenangannya. Kata-kata itu terus berdengung, memantul di dinding-dinding pikirannya seperti gema yang menolak untuk senyap. Ia mencoba melarikan diri ke dalam rutinitasnya yang padat sebagai seorang guru, berharap tumpukan tugas dan hiruk-pikuk murid-murid bisa membungkam suara di kepalanya.
Ester tetap mengajar seperti biasa. Ia tetap berdiri di depan kelas, menegur murid-murid yang ribut di barisan belakang, dan menuliskan catatan sejarah atau sastra di papan tulis dengan huruf-huruf yang tetap terjaga kerapiannya. Namun, di balik debu kapur dan dering bel pergantian jam pelajaran, ada kegelisahan yang tak mau lagi disembunyikan. Sebuah badai kecil sedang berkecamuk di balik ekspresinya yang tenang.
“Aku mencintaimu.”
Kalimat pendek dari Alex itu bukan sekadar pengakuan usang. Bagi Ester, itu terasa seperti sebuah kunci yang diputar paksa pada pintu yang sudah bertahun-tahun ia kunci rapat dan ia sembunyikan di sudut hati yang paling gelap. Dan tiba-tiba, pintu itu terbuka tanpa peringatan, membiarkan semua kenangan dan perasaan yang seharusnya sudah mati mengalir keluar kembali.
Ester menyadari satu hal yang menyakitkan: jika ia membiarkan keadaan ini menggantung lebih lama dalam ketidakpastian, ia tidak hanya sedang menyakiti Doni, pria yang selama ini menjadi pelabuhannya. Ia juga sedang melakukan pengkhianatan terbesar terhadap dirinya sendiri. Ia tahu, ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Doni sebenarnya sudah merasakan jarak yang membentang di antara mereka, bahkan sebelum Ester sempat mengucapkan sepatah kata pun. Instingnya sebagai seorang pria tidak bisa dibohongi. Selama beberapa hari terakhir, ia memperhatikan perubahan-perubahan kecil yang terasa sangat signifikan. Ester berbicara dengan nada yang lebih pelan, seolah takut suaranya akan pecah jika ia bicara terlalu keras. Ia tersenyum jauh lebih hati-hati, sebuah senyuman yang tidak lagi mencapai matanya.
Dan yang paling menyakitkan bagi Doni adalah ketika ia mencoba menggenggam tangan Ester saat mereka berjalan atau duduk bersama. Ada jeda sesaat yang tak bisa dijelaskan sebelum Ester membalas genggamannya, sebuah keraguan fisik yang mencerminkan kekacauan batin.
Doni bukan tipe pria yang suka memaksa. Ia tidak memberondong Ester dengan pertanyaan berulang-ulang tentang apa yang salah. Namun, sebagai seorang atlet beladiri yang terbiasa bertarung di atas matras, ia memiliki kepekaan luar biasa dalam membaca sinyal-sinyal non-verbal. Ia tahu kapan sebuah pukulan akan datang hanya dari perubahan posisi bahu lawannya. Dan kali ini, ia tahu ada sebuah hantaman yang sedang menuju ke arahnya. Pukulan itu tidak berupa kepalan tangan, melainkan sebuah kejujuran yang pahit.
Mereka akhirnya bertemu sore itu di sebuah tempat yang sangat biasa bagi mereka. Bukan di restoran mewah dengan cahaya lilin, bukan pula di taman penuh kenangan yang puitis. Mereka hanya duduk di sebuah kedai sederhana di sudut jalan, tempat yang sering mereka kunjungi setelah Doni selesai berlatih. Tempat itu bising dengan suara kendaraan yang lewat, namun di meja mereka, keheningan terasa sangat pekat.
Tidak ada dekorasi dramatis yang melatarbelakangi pertemuan itu. Tidak ada hujan yang turun untuk menambah kesan sendu, dan tidak ada musik latar yang mengiris hati. Justru kesederhanaan dan kejujuran situasi itulah yang membuat segalanya terasa jauh lebih nyata dan menyesakkan.
Doni duduk dengan posisi tegak, seperti yang selalu ia lakukan. Punggungnya lurus, bahunya kokoh, dan tatapannya tetap tenang meskipun ada kecemasan yang tersembunyi di balik matanya. Ia nampak seperti seorang petarung yang sudah siap menerima hasil pertandingan di papan skor, apa pun hasilnya, menang atau kalah.
Ester duduk tepat di hadapannya. Tangannya saling menggenggam erat di atas meja kayu yang permukaannya sudah agak kusam. Ia menunduk sejenak, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dirinya.
“Aku mau jujur,” kata Ester akhirnya. Suaranya pelan, namun terdengar sangat mutlak di telinga Doni.
Doni hanya mengangguk pelan. “Aku dengar,” jawabnya singkat.
Kalimat itu sederhana, namun mengandung keberanian yang besar dari sisi Doni untuk siap mendengarkan hal yang paling ia takuti.