Latihan terakhir di sasana hari itu berjalan tanpa seremoni apa pun. Tidak ada pidato perpisahan yang mengharu biru, tidak ada jabat tangan formal yang kaku. Semuanya nampak seperti rutinitas yang sudah dijalani Doni selama bertahun-tahun. Matras-matras karet digelar di lantai dengan bunyi tepukan yang khas, samsak-samsak kulit digantungkan pada rantai besi yang berderit pelan, dan suara peluit pelatih terdengar melengking tajam membelah udara seperti biasanya. Namun, di balik normalitas tersebut, hanya satu hal yang benar-benar berbeda: Doni sudah menyadari sepenuhnya bahwa ini bukan lagi sekadar latihan biasa. Ini adalah salam perpisahan bagi jiwanya.
Di atas matras, Doni bergerak dengan presisi yang nyaris terlalu tenang, sebuah ketenangan yang menakutkan bagi siapa pun yang mengenalnya sebagai petarung yang eksplosif. Pukulan lurusnya meluncur tajam tanpa ragu, tendangan memutarnya mendarat dengan akurasi yang sempurna, dan kuncian-kunciannya dilakukan dengan kerapian yang sangat disiplin. Tidak ada ledakan emosi yang membara dalam setiap gerakannya. Tidak ada agresi berlebihan yang biasanya muncul saat ia sedang memendam beban. Hari itu, ia bertarung melawan bayangannya sendiri dengan keheningan yang mutlak.
Teman-teman satu sasarannya mengira bahwa fokus luar biasa yang ditunjukkan Doni adalah bentuk persiapannya karena ia akan segera berangkat ke luar negeri. Kabar tentang tawaran pelatihan intensif di sebuah akademi ternama di luar sana memang sudah menjadi rahasia umum di sasana. Itu adalah kabar besar, sebuah kesempatan langka yang sangat diidamkan oleh banyak atlet, sebuah lompatan karier yang akan membawa nama Doni naik satu tingkat ke kancah internasional.
Alasan itu sangat masuk akal bagi semua orang. Rapi dan sangat terhormat. Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang perlu tahu bahwa sebagian besar dari keputusan besar itu lahir dari sebuah hati yang sedang berusaha keras untuk bertahan dengan cara yang paling menyakitkan: menjauh sejauh mungkin dari titik luka.
Setelah sesi latihan yang melelahkan itu berakhir, pelatihnya memanggil Doni ke sudut ruangan. Pria tua itu menatap Doni dengan sorot mata yang tajam, jenis tatapan seorang guru yang lebih pandai membaca kondisi manusia daripada sekadar teknik beladiri.
“Kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu ini, Doni?” tanya sang pelatih, suaranya berat dan penuh selidik.
“Yakin, Coach,” jawab Doni singkat sambil menyeka keringat di keningnya dengan handuk kecil.
“Ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk masa depanmu. Tapi ingat satu hal, Don... jangan pernah pergi hanya karena kamu sedang mencoba lari dari sesuatu di belakangmu.”
Doni terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tipis yang sarat akan makna muncul di wajahnya. “Saya tidak sedang lari, Coach.”
Doni tidak sedang berbohong. Ia memang merasa tidak sedang lari dari masalah. Ia hanya cukup dewasa untuk menyadari bahwa tinggal lebih lama di tempat ini, menghirup udara yang sama dengan kenangan yang masih basah, mungkin akan mengubahnya menjadi sosok pria yang tidak ia kenali sendiri, seorang pria yang penuh cemburu, pria yang terus menuntut penjelasan, atau pria yang merendahkan harga dirinya dengan memohon untuk dipilih kembali. Dan Doni tahu, sosok pengecut seperti itu bukanlah dirinya.
Malam sebelum keberangkatannya, Doni mulai membereskan barang-barangnya dengan tingkat disiplin yang sama persis seperti saat ia sedang mengikat pelindung tangannya sebelum bertanding. Kaos-kaos latihan dilipat dengan sangat rapi dan presisi. Sepatu lari dimasukkan ke dalam tas dengan urutan yang teratur. Paspor dan dokumen perjalanan diselipkan dengan hati-hati di saku dalam tas punggungnya.