Keputusan itu akhirnya datang tanpa sedikit pun dramatisasi yang berlebihan.
Tidak ada sambaran petir yang membelah langit, tidak ada mimpi buruk yang mencekam dan membangunkannya di tengah malam dengan peluh dingin. Semuanya terjadi begitu saja pada satu pagi yang terasa terlalu sunyi, sebuah kesunyian yang menelusup ke sela-sela rutinitasnya. Di bawah siraman cahaya lampu kantor yang dingin, Alex menyadari satu hal dengan kejernihan yang menyakitkan: jika ia terus-menerus menunda kenyataan ini, jika ia terus bersembunyi di balik tumpukan laporan keuangan, ia akan menjadi seorang pengecut untuk selamanya. Dan ia tidak ingin mati sebagai pria yang takut pada bayangannya sendiri.
Dengan jemari yang sedikit kaku, ia meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan singkat kepada Maria. Sebuah pesan yang to-the-point, tanpa basa-basi yang biasanya ia selipkan.
"Bisa bicara setelah jam kerja nanti? Di luar kantor saja"
Jawaban dari Maria datang hanya beberapa menit kemudian. Singkat, padat, dan benar-benar netral.
"Bisa".
Satu kata itu terasa seperti sebuah laporan audit yang sudah selesai diperiksa dan ditandatangani. Tanpa emosi, tanpa tuntutan. Namun bagi Alex, ketenangan Maria justru terasa seperti badai yang sedang menahan napas.
Mereka akhirnya bertemu di sebuah kedai kopi kecil yang letaknya tak jauh dari gedung bank tempat mereka bekerja. Alex sengaja memilih tempat itu karena ia tahu tempat itu tidak menyimpan kenangan apa pun di antara mereka. Tidak ada sisa tawa, tidak ada janji yang pernah terucap di sana. Hanya ada meja kayu sederhana dengan gurat-gurat usia, lampu gantung berwarna kuning hangat yang temaram, dan aroma kopi yang terlalu kuat untuk disebut romantis.
Ini adalah tempat netral. Sebuah wilayah tanpa sejarah yang bisa dijadikan senjata. Sebuah ruang tanpa alasan bagi mereka untuk merasa terikat satu sama lain.
Maria datang tepat waktu, sebagaimana ia selalu menghargai waktu dalam pekerjaannya. Ia mengenakan blus krem yang rapi, rambutnya diikat ke belakang dengan sempurna tanpa ada helai yang mencuat. Ia terlihat seperti Maria yang biasanya, tenang, profesional, dan sangat terkendali. Namun, saat mata mereka bertemu, Alex menangkap sesuatu yang berbeda. Ada sebuah jarak yang membentang di dalam iris matanya, sebuah tembok transparan yang baru saja dibangun dengan sangat kokoh.
“Terima kasih sudah bersedia datang, Maria,” buka Alex, suaranya terdengar rendah dan serak.
Maria hanya mengangguk pelan sambil meletakkan tasnya di kursi samping. “Kamu yang meminta untuk bicara, Lex.”
Tidak ada nada tuduhan dalam kalimatnya. Hanya sebuah penyampaian fakta yang dingin. Mereka memesan minuman, namun saat pelayan mengantarkannya ke meja, tak satu pun dari mereka yang menyentuh cangkir tersebut. Uap kopi menguap sia-sia di antara mereka.
Untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang, Alex hanya menatap permukaan meja kayu. Ia sudah menyusun setiap kata dan kalimat ini berulang kali di kepalanya selama berhari-hari. Ia menatanya seperti ia menata laporan keuangan tahunan, rapi, logis, dan berurutan. Ia ingin segalanya terdengar masuk akal.
Namun, ketika kata-kata itu harus diucapkan secara lisan, semuanya terasa berkali-kali lipat lebih berat. Seolah-olah setiap huruf memiliki beban timbal.
“Aku tidak mau berputar-putar lagi,” akhirnya Alex berkata dengan suara yang lebih mantap. “Aku ingin jujur padamu.”
Maria tidak mengubah posisi duduknya. Ia tetap tegak. Hanya sorot matanya yang sedikit melembut, atau mungkin itu hanya ilusi dari pantulan lampu kedai. Alex tidak yakin.
“Aku memang memiliki perasaan yang belum selesai,” lanjut Alex, suaranya mulai bergetar tipis. “Perasaan itu ada dari dulu. Dan selama ini, aku benar-benar berpikir bahwa aku sudah berhasil menutupnya rapat-rapat. Aku berpikir... aku bisa memulai sesuatu yang baru dan bersih denganmu.”
Ia menelan ludah dengan susah payah, kerongkongannya terasa seperti teriris.
“Tapi ternyata, aku salah besar.”
Kata itu menggantung di udara yang pengap, berat dan menyesakkan. Maria tetap diam, membiarkan Alex menuntaskan apa pun yang sedang ia coba sampaikan.
“Aku bertemu dengannya lagi,” suara Alex menurun hingga nyaris menyerupai bisikan penuh dosa. “Kami bicara. Dan... ada hal yang terjadi. Sebuah ciuman. Aku tidak sedang mencari pembenaran atas hal itu. Aku sama sekali tidak bangga dengan diriku sendiri. Tapi kenyataannya, itu terjadi.”