Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #40

Chapter 40

Tidak ada perayaan yang riuh rendah untuk menandai babak baru ini.

Tidak ada unggahan foto dengan takarir puitis di media sosial. Tidak ada pengumuman resmi yang disebarkan kepada lingkaran pertemanan mereka. Bahkan, tidak ada makan malam mewah dengan cahaya lilin remang-remang dan kalimat-kalimat besar yang biasanya terdengar seperti janji abadi dalam film romansa.

Hubungan mereka dimulai kembali pada satu sore yang tenang, ketika Alex dan Ester duduk berdampingan di sebuah bangku taman yang mulai kusam dimakan usia. Tempat itu bukan tempat asing; di sanalah dulu mereka sering terperangkap dalam percakapan yang penuh keraguan, tempat yang pernah menjadi saksi bisu bagi segala kebingungan dan tarik-ulur perasaan yang menyiksa.

Namun kali ini, tidak ada lagi sesuatu yang dibiarkan menggantung di udara.

“Aku tidak mau lagi menjalani ini dengan setengah-setengah, Ester,” kata Alex dengan suara rendah namun penuh penekanan. Tatapannya lurus ke depan, mengamati garis cakrawala yang mulai memerah.

Ester tidak segera menoleh. Ia membiarkan angin sore memainkan ujung rambutnya, meresapi setiap kata yang baru saja diucapkan pria di sampingnya. “Aku juga,” jawabnya singkat.

Kalimat itu terdengar sangat sederhana, hampir datar. Namun, mereka berdua tahu persis bahwa untuk sampai pada dua kata itu, ada banyak hal yang sudah retak dan hancur di belakang mereka. Ada air mata yang sudah tumpah, dan ada harga diri yang harus dikorbankan.

“Aku ingin kita menjalani ini dengan jujur,” lanjut Alex lagi, kali ini ia menoleh ke arah Ester. “Tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi dari siapa pun.”

Ester mengangguk pelan. Jemarinya yang ramping perlahan bergerak di atas kayu bangku taman, mencari tangan Alex. Ketika kulit mereka bersentuhan, Alex segera membalasnya dengan genggaman yang erat, seolah-olah ia tidak ingin melepaskannya lagi untuk kedua kali.

Begitulah semuanya dimulai kembali.

Resmi. Tenang. Dan tanpa sorak-sorai kemenangan.

Hari-hari pertama hubungan mereka terasa seperti mesin waktu yang membawa mereka kembali ke masa-masa kuliah yang manis. Namun, ada perbedaan mendasar: kini mereka menjalaninya dengan usia yang lebih matang dan kesadaran akan luka yang jauh lebih nyata.

Mereka mulai membiasakan diri untuk makan malam bersama sepulang kerja di warung-warung pinggir jalan yang bersahaja. Mereka sering berjalan kaki tanpa tujuan yang jelas, hanya untuk menikmati kehadiran satu sama lain di trotoar kota yang bising. Mereka bisa tertawa lepas saat menceritakan kembali kenangan lama yang dulu terasa terlarang untuk dibicarakan, namun kini tak lagi menjadi beban.

Ester tampak jauh lebih ringan. Ada cahaya baru yang berpendar di matanya setiap kali ia bercerita tentang dinamika murid-muridnya di sekolah. Ia tidak lagi ragu untuk menggenggam tangan Alex di atas meja warung sederhana, menunjukkan pada dunia atau setidaknya pada diri mereka sendiri bahwa mereka adalah satu kesatuan.

Untuk sesaat, bagi Alex dan Ester, semuanya terasa seperti pulang ke rumah yang sebenarnya.

Namun, kebahagiaan yang lahir dari sebuah kejujuran yang terlambat ternyata memiliki berat jenisnya sendiri. Kebahagiaan itu nyata, sungguh-sungguh nyata, tetapi tidak pernah sepenuhnya terasa ringan di pundak mereka.

Kadang-kadang, di tengah tawa yang sedang memuncak, Ester tiba-tiba akan terdiam. Pandangannya mendadak kosong, menatap ke kejauhan selama beberapa detik lebih lama dari biasanya. Alex menyadari hal itu. Ia tahu itu bukan karena Ester meragukan cinta di antara mereka.

Melainkan karena Ester adalah wanita yang memiliki nurani. Ia sadar sepenuhnya bahwa kebahagiaan yang mereka nikmati saat ini tidak muncul dari ruang hampa yang suci. Ada hati yang harus hancur, ada seseorang yang harus mundur dengan luka, agar ia bisa duduk di tempat ini sekarang.

Suatu malam, setelah mereka menghabiskan makan malam sederhana, mereka berjalan pelan menyusuri trotoar yang mulai sepi.

Lihat selengkapnya