Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #41

Chapter 41

Bandara selalu dipenuhi oleh dua jenis manusia yang kontras: mereka yang pulang dengan damba akan pelukan hangat, dan mereka yang pulang hanya untuk menjemput sebuah jawaban yang sudah lama mereka duga.

Doni melangkah keluar dari pintu kedatangan internasional dengan ritme langkah yang tidak tergesa. Sebuah tas ransel hitam teknis tergantung di satu bahunya, seolah berat beban itu tidak lagi berarti bagi fisiknya. Tubuhnya nampak lebih kurus dibandingkan saat ia berangkat, namun bentuk bahunya tetap bidang dan kokoh. Hanya saja, kini segalanya tampak lebih tajam, seolah otot-ototnya dipahat oleh sebuah disiplin yang tidak memberikan ruang sedikit pun untuk ampun.

Rahangnya mengeras, memberikan kesan raut wajah yang lebih dewasa sekaligus lebih dingin. Tatapannya pun telah mengalami metamorfosis; tidak lagi menyala-nyala seperti api persaingan yang dulu sering ia tunjukkan di atas matras, melainkan sedingin baja yang sudah melewati proses penempaan ribuan kali. Latihan intensif di luar negeri itu ternyata tidak hanya membentuk serat-serat ototnya. Di sana, di tengah kesunyian negeri orang, Doni menguatkan sesuatu yang lain dalam dirinya: sesuatu yang lebih sunyi, lebih dalam, dan jauh lebih kokoh. Sesuatu yang akhirnya membuatnya berhenti untuk terus-menerus berharap.

Selama berbulan-bulan, ia telah menenggelamkan diri dalam ritme hidup yang kejam dan tak kenal kompromi. Ia bangun jauh sebelum matahari sempat menyapa bumi, berlatih hingga tangannya gemetar hebat karena kelelahan kronis, melakukan sparring hingga napasnya nyaris habis dan pandangannya berkunang-kunang di bawah lampu sasana. Namun, di antara tetesan keringat yang membanjiri lantai dan lebam kebiruan di tubuhnya, ada sebuah ruang kosong di benaknya yang perlahan mulai terisi oleh potongan-potongan cerita dari tanah air.

Sebuah pesan singkat dari teman lama yang bernada sungkan. Sebuah foto yang tidak sengaja melintas di linimasa media sosialnya. Sebuah kalimat samar dari kerabat yang terlalu mudah untuk ditebak ke mana arah tujuannya.

Doni sebenarnya tidak mencari tahu. Namun kebenaran, persis seperti aroma tanah yang basah sesudah hujan, selalu memiliki caranya sendiri untuk menemukan jalan menuju indra penciumannya. Awalnya, ia menolak untuk percaya. Kemudian ia memilih untuk diam dan merenung. Hingga akhirnya, ia sampai pada titik di mana ia mulai memahami segalanya.

Dan anehnya, di titik pemahaman itu, ia sama sekali tidak merasa marah.

Baginya, marah membutuhkan energi yang sangat besar. Sementara itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh perjuangan, Doni merasa lelah yang luar biasa. Bukan lelah pada tubuhnya yang kini sangat prima, melainkan lelah pada harapan yang sudah terlalu lama dan terlalu keras ia jaga sendirian.

Mobil taksi yang membawanya dari bandara melaju membelah jalanan kota yang sangat akrab di ingatannya. Ia menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat objek yang dilewatinya. Kota ini masih sama. Lampu merah di perempatan jalan itu masih memiliki durasi yang sama. Warung kopi di sudut jalan masih berdiri di tempat yang sama. Bahkan pohon-pohon di tepi jalan pun menunjukkan siklus yang sama; daun-daunnya mulai menguning bersiap untuk gugur.

Yang berubah hanyalah satu hal yang sangat krusial: Doni menyadari bahwa ia tidak lagi berdiri sebagai tokoh utama di tengah cerita itu.

Ester sama sekali tidak mengetahui bahwa Doni telah kembali ke kota ini sampai sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke ponselnya sore itu.

"Aku sudah di kota. Bisa kita bertemu sebentar?".

Hanya itu. Sebuah pesan yang sangat fungsional. Tidak ada penggunaan emotikon yang manis, tidak ada sapaan hangat yang biasanya mendahului pembicaraan, dan tidak ada tanda tanya yang berlebihan.

Seketika, jantung Ester berdegup jauh lebih cepat dari yang seharusnya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Mereka akhirnya sepakat untuk bertemu di sebuah kafe kecil yang tersembunyi, tempat yang dulu hampir setiap minggu mereka datangi sepulang Doni melakukan latihan rutin. Tempat itu masih menjaga karakternya dengan baik; aroma kopi pahit yang pekat bercampur dengan bau kayu tua yang menenangkan. Sore itu, langit menggantung dengan warna keabu-abuan, seolah menyerupai sebuah keputusan besar yang belum sepenuhnya jatuh ke bumi.

Ester datang lebih dulu, duduk di kursi pojok dengan tangan yang saling menggenggam erat di atas meja. Ada beban yang sangat berat di dadanya. Bukan karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam pertemuan ini, melainkan karena ia tahu persis setiap kata yang kemungkinan besar akan terucap.

Pintu kafe terbuka dengan denting lonceng yang halus. Doni masuk ke dalam.

Sosoknya memang nampak lebih kurus, membuat struktur wajahnya terlihat lebih tegas dan maskulin. Ada garis-garis halus di sekitar matanya yang dulu tidak ada, tanda dari malam-malam tanpa tidur dan tekanan batin yang hebat. Namun, perubahan yang paling mencolok ada pada tatapannya. Dingin, memang benar. Tapi itu bukan jenis dingin yang lahir dari kebencian yang membara. Itu adalah dingin yang muncul karena segalanya sudah benar-benar dianggap selesai.

Mereka saling menatap selama beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat, terlalu panjang untuk sekadar disebut sebagai kebetulan belaka.

“Halo, Ester,” kata Doni, suaranya terdengar bariton dan stabil.

“Halo, Don,” jawab Ester dengan suara yang nyaris berbisik.

Ester berdiri sejenak, namun suasana tidak mengizinkan mereka untuk berpelukan atau bahkan sekadar berjabat tangan. Mereka kembali duduk berhadapan seperti dua orang dewasa yang sangat sadar bahwa percakapan sore ini bukanlah tentang mengenang nostalgia masa lalu yang manis.

Beberapa detik berlalu dengan kecanggungan yang tidak berisik, hanya suara mesin kopi yang bekerja di latar belakang.

“Kamu kelihatan sangat berbeda, Don,” kata Ester akhirnya, mencoba memecah kesunyian.

“Latihan di sana sangat keras,” jawab Doni singkat, matanya menatap cangkir kopi yang baru saja diletakkan pelayan. “Banyak waktu yang aku gunakan untuk berpikir juga.”

Kalimat itu menggantung di udara. Ester menelan ludah dengan susah payah. Ia bersiap untuk sebuah interogasi atau tuduhan, namun Doni tidak melakukan itu semua. Ia tidak berbelit-belit. Ia tidak menuduh Ester telah berkhianat, tidak menginterogasi tentang kapan semuanya dimulai, dan sama sekali tidak menyebut nama Alex.

Lihat selengkapnya