Sejak pertemuan singkat yang canggung namun sarat tekanan di depan gedung olahraga tempo hari, ada sesuatu yang terus berdenyut gelisah di dalam dada Alex. Sebuah perasaan yang tak mau diam, menyerupai ketukan yang tak kunjung berhenti pada dinding nuraninya.
Doni sama sekali tidak meledak dalam amarah.
Ia tidak mengutuk dengan kata-kata kasar yang menghina.
Ia bahkan tidak melontarkan tantangan fisik untuk menyelesaikan sengketa ini di atas matras.
Justru ketenangan itulah yang membuat Alex merasa sangat terusik.
Bagi Alex, kemarahan yang meluap adalah sesuatu yang bisa ia hadapi; teriakan bisa ia balas dengan pembelaan, dan makian bisa ia telan sebagai konsekuensi. Namun, ketenangan Doni yang terlalu rapi dan tertata itu terasa seperti sebuah cermin raksasa yang diletakkan tepat di depan wajahnya, memaksanya untuk menatap bayangannya sendiri tanpa ampun, tanpa filter, dan tanpa sedikit pun ruang untuk melarikan diri dari rasa bersalah.
Malam itu, di dalam kamar kosnya yang sempit dan pengap, Alex duduk mematung di tepi tempat tidur. Lampu bohlam kuning yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya redup, memberikan suasana yang semakin menekan. Hujan memang belum turun membasahi bumi, namun udara terasa sangat berat, seolah-olah awan kumulonimbus sedang mengendap tepat di atas atap kamarnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka ponselnya. Ia menatap nama 'Doni' di daftar kontak untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya untuk menekan tombol panggil.
Dering pertama terdengar nyaring di telinganya.
Dering kedua terasa seperti keabadian.
Dering ketiga...
“Ya.”
Suara di seberang sana terdengar sangat datar. Tidak ada kehangatan yang dulu biasa Alex dengar, namun juga tidak mengandung nada dingin yang menusuk. Suara itu hanyalah sebuah respons fungsional yang hampa.
“Bisa kita bertemu, Don?” tanya Alex, suaranya terdengar lebih parau dari yang ia duga.
Terjadi keheningan selama beberapa saat di seberang sana. Doni, dengan instingnya yang tajam, nampaknya sudah mengetahui ke mana arah angin pembicaraan ini bahkan sebelum Alex sempat menyebutkan alasannya.
“Untuk apa lagi?” tanya Doni singkat.
“Aku rasa... ada sesuatu yang belum benar-benar selesai di antara kita.”
Alex bisa membayangkan Doni hampir tersenyum sinis di seberang sana. Bukan karena ada hal yang lucu, melainkan karena segala sesuatunya terasa begitu mudah untuk ditebak.
Bagi Doni, Alex adalah sosok yang selalu mudah dibaca sejak dulu. Sejak masa-masa kuliah mereka, ketika mereka masih sering berbagi bangku belakang di kelas yang membosankan dan merajut mimpi-mimpi sederhana tentang masa depan yang nampak luas tak bertepi. Doni tahu bahwa Alex adalah tipe pria yang selalu berpikir terlalu lama sebelum mengambil keputusan. Alex adalah pria yang selalu ingin memastikan semua orang tetap utuh dan bahagia. Dan justru karena sifat itulah, ironisnya, sering kali tidak ada satu pun hal yang benar-benar bisa tetap utuh pada akhirnya.
“Besok sore,” jawab Doni akhirnya, memberikan putusan. “Di tempat lama.”
Tempat lama.
Sebuah lapangan parkir yang kini sudah kosong dan terbengkalai di bagian belakang kampus mereka dulu. Area itu kini jarang sekali dilewati orang. Yang tersisa hanyalah hamparan aspal yang mulai retak di sana-sini, lampu-lampu tinggi yang sering berkedip karena korsleting, dan tembok tua yang penuh dengan coretan grafiti usang.
Itu adalah tempat yang cukup sepi untuk sebuah kejujuran yang sebenarnya tidak ingin didengar oleh siapa pun.
Sore berikutnya, langit kelabu yang menggantung rendah seolah menjadi latar yang sempurna bagi pertemuan mereka. Udara terasa lembap, menandakan hujan akan segera tiba.
Alex datang lebih dulu ke lokasi tersebut. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, sementara langkah kakinya mondar-mandir dengan gelisah meskipun ia berusaha keras untuk terlihat tenang. Tak lama kemudian, deru mesin motor yang sangat akrab terdengar. Motor Doni berhenti tepat beberapa meter di hadapannya.
Doni melepas helmnya dengan gerakan perlahan dan terukur. Rambutnya kini jauh lebih pendek dibandingkan pertemuan mereka tempo hari, dan gurat wajahnya nampak jauh lebih keras. Mereka berdua kini berdiri berhadapan dalam jarak yang cukup dekat.
Dua sahabat lama.
Dua orang lelaki yang dulu pernah tertawa terbahak-bahak hingga tengah malam, membicarakan masa depan yang saat itu terasa begitu sederhana: mendapatkan pekerjaan tetap yang mapan, meminang perempuan yang baik, dan menjalani hidup yang lurus-lurus saja.
Sangat ironis ketika menyadari bahwa yang merusak semua tatanan mimpi itu bukanlah ambisi harta atau jabatan. Bukan pula jarak geografis yang memisahkan mereka. Melainkan hanya sebuah perasaan yang datang terlambat, dan sebuah keberanian yang datang jauh lebih lambat lagi.
“Kamu mau bicara apa, Lex?” tanya Doni, langsung menusuk ke inti persoalan tanpa basa-basi.
Alex menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak. “Aku merasa tidak enak padamu, Don. Sangat tidak enak.”