Malam datang menyergap tanpa suara, membawa keheningan yang merayap masuk ke sela-sela jendela kamar.
Di dalam kamar kecilnya yang tertata rapi, Maria duduk membeku di depan meja belajar kayu yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Meja itu biasanya hanya menjadi saksi bagi hal-hal praktis dan membosankan: tempat ia memeriksa laporan audit bank, menyusun rincian keuangan pribadinya, atau sekadar menulis daftar belanja mingguan. Lampu meja berpendar dengan cahaya kuning hangat, menciptakan lingkaran sinar yang kontras dengan kegelapan ruangan, memantulkan bayangan lembut Maria yang tampak ringkih namun tegak di dinding.
Di luar jendela, denyut nadi kota Jakarta masih berdetak seperti biasa. Suara knalpot motor yang melintas di kejauhan, sayup-sayup suara tetangga yang sedang menutup pagar, dan frekuensi radio dari rumah sebelah yang memutar lagu lama bernuansa melankolis, semuanya menyatu menjadi kebisingan latar yang samar.
Namun malam ini, fokus Maria tidak sedang terbagi pada dunia luar. Di hadapannya, tergeletak selembar kertas putih bersih.
Kosong. Suci. Menunggu.
Maria menatap permukaan kertas itu untuk waktu yang cukup lama. Tidak ada tekanan yang menghimpit dadanya secara mendadak. Tidak ada perasaan mendesak yang meledak-ledak. Bahkan, tidak ada setetes pun air mata yang biasanya mengiringi momen ketika seseorang memutuskan untuk menuliskan sesuatu yang krusial.
Yang hadir hanyalah sebuah kesadaran yang datang merambat pelan; bahwa beberapa fase dalam hidup manusia memang perlu ditutup dengan rangkaian kata-kata yang tuntas. Ia melakukan ini bukan untuk memohon simpati orang lain, bukan pula untuk memaksakan sebuah pemahaman. Ia melakukannya murni untuk dirinya sendiri, untuk memberikan titik pada kalimat yang sudah terlalu lama dibiarkan koma.
Maria meraih pulpen hitamnya. Ujung pulpen itu menyentuh permukaan kertas dengan sangat hati-hati, sebuah gerakan yang menyerupai seseorang yang sedang memberanikan diri membuka pintu sebuah ruangan yang sudah bertahun-tahun terkunci rapat.
Ia mulai menulis.
Tulisan tangannya nampak sangat rapi dan proporsional, sebuah manifestasi dari kepribadiannya yang terstruktur sejak masa sekolah dulu. Setiap huruf berdiri dengan anggun dan tenang, tidak menunjukkan tanda-tanda ketergesaan atau keraguan emosional.
Ini bukan sebuah surat cinta yang memelas. Bukan pula sebuah pengakuan dramatis yang menuntut balasan. Maria tahu satu hal dengan sangat absolut: ia tidak ingin meninggalkan luka tambahan bagi siapa pun. Ia tidak ingin menjadi beban moral di masa depan bagi orang yang pernah ia sayangi.
Kalimat pertama muncul dengan kesederhanaan yang jujur.
Alex,
Ia menghentikan gerakannya sejenak. Menatap nama itu. Nama yang selama ini selalu terasa akrab di lidahnya, namun kini perlahan mulai terasa jauh, seolah nama itu milik seseorang dari masa lalu yang sudah sangat asing. Ada masa di mana memanggil nama itu terasa begitu ringan dan menyenangkan, saat mereka berpapasan di pantry bank, saat bertukar data di meja kerja, atau di sela-sela percakapan kecil yang dulu mereka anggap sebagai rutinitas biasa.
Kini, menuliskannya secara formal di atas kertas putih terasa seperti sedang membacakan baris terakhir dari sebuah bab buku yang sudah ia baca berulang kali hingga ia hafal setiap titik dan komanya. Maria menarik napas, lalu melanjutkan tulisannya.
Kalau kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah resmi pindah ke kantor cabang yang baru. Aku menulis ini bukan untuk membuatmu merasa bersalah, Alex. Aku juga sama sekali tidak menulisnya untuk memaksamu mengingat kembali sesuatu yang sudah kita anggap selesai.