Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #45

Chapter 45

Sore itu, gedung sekolah seolah kehilangan nyawanya.

Koridor panjang yang biasanya riuh oleh derap langkah sepatu para siswa dan gelak tawa yang memantul di dinding, kini hanya menyisakan gema langkah Ester yang tunggal dan ragu. Papan pengumuman yang penuh dengan jadwal ujian dan poster kegiatan ekstrakurikuler berdiri sunyi, tampak kusam ditelan bayang-bayang. Kelas-kelas telah dikunci rapat, meninggalkan aroma kapur dan pembersih lantai yang menguap di udara. Cahaya matahari yang mulai meredup menembus jendela-jendela kaca yang tinggi, jatuh miring di atas lantai keramik, menciptakan garis-garis emas yang membagi lorong menjadi wilayah terang dan gelap.

Ester berjalan perlahan, membiarkan tas kerjanya yang terasa lebih berat dari biasanya tersampir lemas di bahunya. Namun, langkah kakinya tidak tertuju pada gerbang keluar tempat mobil jemputan atau angkutan umum menanti.

Ia berhenti tepat di ujung koridor sayap timur.

Di sana, sebuah pintu kayu jati berwarna cokelat tua berdiri dengan anggun. Ada sebuah kaca kecil berbentuk oval di tengahnya, menampakkan kegelapan yang tenang di balik sana. Kapel sekolah. Sebuah ruang kecil yang dirancang sebagai oase bagi jiwa-jiwa yang letih di tengah rutinitas akademis yang padat. Pintu itu memang tidak pernah benar-benar dikunci; ia senantiasa terbuka bagi siapa saja, mulai dari murid yang didera kecemasan sebelum ujian besar, guru yang baru saja kehilangan kesabaran, hingga orang-orang seperti Ester, yang sekadar butuh tempat sunyi untuk membedah isi kepalanya sendiri.

Ester mendorong pintu itu perlahan.

Suara engselnya berderit lembut, memecah kesunyian yang sakral. Begitu melangkah masuk, udara mendadak berubah. Suhu di dalam kapel terasa beberapa derajat lebih sejuk, membawa aroma khas yang sangat ia kenali: bau kayu tua yang lembap, sisa-sisa lilin yang pernah dinyalakan, dan wangi bunga sedap malam yang mulai layu di sudut altar.

Kapel itu tidak besar. Hanya ada beberapa baris bangku kayu panjang yang tersusun rapi, menghadap ke sebuah altar sederhana dari batu marmer. Di atas altar, sebuah salib kayu tanpa hiasan berlebihan tergantung di dinding putih yang bersih, seolah sedang menanti curahan hati siapa pun yang datang. Cahaya sore yang masuk dari jendela vertikal di sisi ruangan memberikan efek dramatis, menyinari debu-debu halus yang menari di udara.

Ester berjalan masuk, memilih bangku di barisan tengah, lalu duduk.

Permukaan kayu bangku itu terasa dingin di telapak tangannya, mengirimkan sensasi yang sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Untuk beberapa saat, ia tidak melakukan apa pun. Ia tidak langsung berlutut. Ia tidak menundukkan kepala dengan khusyuk. Ia juga tidak merapatkan kedua tangannya dalam sikap doa yang sempurna. Ia hanya duduk diam, matanya terpaku pada salib kecil di depan sana, seolah-olah sedang menantang kesunyian untuk bicara lebih dulu.

Biasanya, berkomunikasi dengan Tuhan adalah hal yang paling natural bagi Ester. Sejak kecil, ia dibesarkan dengan pemahaman bahwa doa adalah sebuah dialog yang jujur, tempat untuk meminta kekuatan saat rapuh, memohon perlindungan saat terancam, atau sekadar membisikkan rasa syukur atas hari-hari yang berjalan tanpa kendala.

Namun, hari ini semuanya terasa berbeda. Hari ini, setiap kata yang ingin ia ucapkan terasa seperti bongkahan batu yang tersangkut di tenggorokan.

Ester akhirnya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun, doa yang coba ia susun tidak mengalir dengan ritme yang biasanya. Pikirannya bising, penuh dengan wajah-wajah dan kenangan yang saling tumpang tindih.

“Tuhan…” bisiknya pelan. Suaranya nyaris hilang ditelan keheningan ruangan.

Ia berhenti. Menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang sesak oleh rasa bersalah yang tak kasat mata. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak tahu bagaimana caranya bicara di hadapan-Mu hari ini.”

Kapel itu tetap sunyi. Tidak ada embusan angin ajaib, tidak ada suara surgawi yang menyahut. Namun, di tengah kesunyian itu, Ester justru merasa terdorong untuk menanggalkan semua topeng kesalehannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyusun kalimat doa yang rapi, indah, atau yang terdengar 'benar' menurut kaidah agama. Ia memutuskan untuk menjadi telanjang secara spiritual.

Lihat selengkapnya