Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #46

Chapter 46

Pagi itu, Alex terbangun jauh sebelum alarm di ponselnya sempat berteriak.

Kamar kosnya masih diselimuti kegelapan yang tanggung. Tirai kain tipis yang menutupi jendela hanya mampu membiarkan sedikit cahaya fajar menyelinap masuk, cukup untuk memberikan siluet samar pada meja kayu kecil di sudut ruangan. Meja itu tampak sesak, penuh dengan tumpukan buku referensi dan tumpukan kertas kerja yang belum sempat ia rapikan. Di atas sana, sebuah kipas angin plafon tua berputar dengan ritme yang malas, mengeluarkan bunyi derit halus yang monoton di tengah kesunyian pagi.

Alex duduk mematung di tepi tempat tidur selama beberapa menit. Telapak kakinya menyentuh lantai keramik yang dingin, mengirimkan sensasi yang seketika menjalar hingga ke tulang punggungnya. Secara kalender, hari ini sama sekali bukan hari yang istimewa. Tidak ada angka cantik yang melingkari tanggalnya, tidak ada perayaan besar yang terjadwal. Namun, di dalam labirin pikirannya, sebuah keputusan besar telah berputar tanpa henti selama dua minggu terakhir, mencari celah untuk akhirnya diwujudkan.

Ia berdiri dengan perlahan, melangkah menuju meja kecil itu, lalu menarik laci yang terletak di posisi paling bawah. Di balik tumpukan dokumen lama, tersembunyi sebuah kotak beludru kecil.

Kotak itu tidak nampak mewah. Bahkan, jika dibandingkan dengan standar lamaran kelas menengah pada umumnya, kotak itu mungkin terlihat sedikit terlalu bersahaja. Alex mengambilnya, merasakannya di telapak tangan, lalu membukanya dengan satu gerakan jempol yang ragu.

Sebuah cincin perak mungil terselip di sana. Lingkarannya halus, dengan sebuah batu permata kecil yang tidak terlalu mencolok, bukan jenis yang akan memantulkan cahaya menyilaukan ke seluruh ruangan. Itu bukan perhiasan mahal. Bukan sesuatu yang akan membuat orang asing terkesima saat melihatnya di etalase toko.

Namun, Alex telah memilihnya dengan tingkat kesadaran yang sangat tinggi. Ia teringat kembali saat ia berdiri cukup lama di depan etalase toko perhiasan ternama, menatap barisan cincin berlian yang berkilau tajam di bawah lampu sorot yang terang. Namun, semakin lama ia menatap kemewahan itu, semakin ia merasa asing. Ia merasa bahwa segala kilau itu justru terasa palsu untuk hubungan mereka.

Hidupnya dan Ester tidak dimulai dari lembaran cerita yang bersih dan rapi. Hubungan mereka lahir dari kekacauan, dari air mata orang lain, dan dari kerumitan yang menyesakkan. Maka, lamaran ini pun tidak perlu dibungkus dengan ilusi kemegahan yang hampa. Ia ingin sesuatu yang nyata, sesuatu yang membumi.

Alex menutup kembali kotak itu. Ia menyadari ujung jari-jarinya sedikit dingin. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia bukanlah tipe pria yang pandai merangkai momen romantis yang dramatis. Sejak dulu, ia selalu merasa canggung ketika harus melontarkan kalimat-kalimat yang terlalu indah atau puitis. Namun, hari ini ia meyakinkan dirinya sendiri: ini bukan tentang romantisme dangkal. Ini tentang sebuah keberanian untuk bertanggung jawab.

Sore pun tiba, membawa langit yang sedikit muram dengan awan mendung yang menggantung rendah.

Alex dan Ester sepakat untuk bertemu di sebuah taman kecil yang terletak tidak jauh dari jalan utama kota. Taman itu bukan destinasi wisata yang populer; tidak ada pemandangan istimewa di sana. Hanya ada beberapa baris bangku kayu yang catnya mulai mengelupas, serta pohon-pohon tua yang daunnya saling berbisik setiap kali angin lewat. Namun bagi Alex, kesederhanaan tempat inilah yang terasa paling tepat.

Ester datang beberapa menit kemudian. Ia tampak bersahaja namun anggun dalam balutan kemeja berwarna krem dan rok panjang yang melambai halus mengikuti langkah kakinya. Begitu matanya menangkap sosok Alex yang sudah menunggu, sebuah senyum kecil yang tulus merekah di wajahnya.

“Sudah lama menunggu, Alex?” tanyanya lembut.

Alex menggeleng pelan, mencoba menetralkan degub jantungnya. “Baru saja.”

Mereka duduk berdampingan di bangku kayu yang menghadap ke arah jalan setapak taman. Di kejauhan, terlihat beberapa anak kecil sedang asyik mengayuh sepeda sambil tertawa. Seorang pedagang minuman keliling lewat dengan langkah lambat, menawarkan dagangannya dengan suara yang parau. Kehidupan di sekitar mereka berjalan dengan normal, datar, dan biasa saja. Justru karena itulah, suasana di antara mereka terasa jauh lebih nyata dan jujur. Tidak ada panggung yang disiapkan, tidak ada musik latar yang mengiringi. Hanya ada dua manusia dewasa yang sudah terlalu lama terjebak dalam kebingungan yang sama.

Selama beberapa menit awal, mereka hanya terlibat dalam percakapan ringan yang rutin. Tentang beban pekerjaan di kantor, tentang cuaca yang belakangan ini sulit diprediksi, hingga rencana-rencana kecil untuk menghabiskan akhir minggu. Namun, Alex tahu bahwa ia tidak bisa terus-menerus menunda apa yang harus ia sampaikan.

Ia menarik napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan udara sore yang lembap. “Ester.”

Lihat selengkapnya