Kabar mengenai lamaran itu tidak pernah diumumkan secara resmi melalui seremoni yang megah atau pengumuman yang teatrikal. Tidak ada undangan makan malam formal yang dikirimkan, tidak ada unggahan pamer di media sosial dengan foto sepasang tangan yang saling bertautan disertai kilau cincin perak yang mencolok di bawah lampu flash.
Alex dan Ester memilih untuk menjaga privasi mereka dalam bungkus kesederhanaan. Mereka hanya memberi tahu segelintir orang terdekat, beberapa rekan kerja yang secara kebetulan menangkap perubahan aura di antara mereka, atau teman lama yang memang sudah mengikuti dinamika hubungan itu sejak awal.
Namun, kabar seperti itu, di lingkungan yang sekecil dan seakrab kantor bank atau lingkaran pertemanan lama, selalu memiliki kaki-kaki gaibnya sendiri untuk berjalan. Ia berpindah dari satu percakapan ringan ke percakapan lainnya, merayap dari bisikan-bisikan pendek di sudut pantry kantor hingga menjadi topik obrolan santai yang meredam penat setelah jam kerja berakhir.
Awalnya, ia hanya berupa satu kalimat informatif yang dilemparkan tanpa pretensi.
“Katanya Alex sudah melamar Ester secara pribadi.”
Lalu, seorang rekan lain akan menimpali dengan nada penasaran yang tak terelakkan.
“Serius? Kamu dengar dari siapa?”
“Iya, kabarnya begitu. Katanya kejadiannya minggu lalu, sangat tertutup.”
Tidak ada nada jahat yang menyertai gosip itu. Tidak ada niat terselubung untuk melukai perasaan siapa pun yang mendengarnya. Mereka hanya sedang menjalankan fungsi sosial manusia yang paling dasar: berbagi berita. Namun, berita kecil yang tampak tidak berbahaya itu kadang-kadang menemukan jalan untuk mencapai telinga-telinga yang sebenarnya belum sepenuhnya siap untuk mendengar frekuensi tersebut.
Siang itu, atmosfer di dalam kantor bank cabang tersebut sedang berada pada puncak kesibukannya. Maria duduk mematung di meja kerjanya, jemarinya menari dengan ritme yang stabil di atas keyboard saat ia berusaha menyelesaikan laporan akhir bulan yang krusial.
Layar monitornya menampilkan deretan angka-angka nominal yang harus ia periksa ulang dengan ketelitian tinggi sebelum dikirimkan ke meja manajer cabang. Pikirannya terfokus sepenuhnya pada selisih angka dan saldo, mencoba mencari perlindungan di balik rutinitas pekerjaan yang kaku.
Namun, di dekat area pantry yang hanya berjarak beberapa meter dari mejanya, dua orang rekan kerja sedang berdiri sambil menunggu mesin kopi bekerja. Mereka berbicara dengan nada suara yang tenang, tidak berbisik seolah-olah sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar. Bagi mereka, informasi ini hanyalah bumbu penyedap di tengah hari yang membosankan.
“Eh, kamu sudah dengar kabar terbaru belum?” tanya salah satunya sambil memegang gelas kertas.
“Kabar apa? Gosip mutasi lagi?”
“Bukan. Ini tentang Alex dan Ester. Katanya, mereka sudah resmi tunangan.”
Maria tidak langsung mengangkat kepalanya. Ia tidak memberikan reaksi fisik yang dramatis. Namun, secara mekanis, jemarinya mendadak berhenti di atas tuts keyboard. Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara keras, namun di dalam ruangan yang memiliki akustik perkantoran seperti itu, frekuensinya cukup jelas untuk menghantam dinding-dinding kesadaran Maria.
“Serius?” suara rekan yang satunya lagi terdengar sedikit terkejut, namun lebih ke arah antusias.
“Iya. Katanya sih beberapa hari yang lalu Alex melamar. Entah di taman atau di mana, tapi yang jelas mereka sudah sepakat.”
Ada tawa kecil yang menyusul kemudian, jenis tawa yang menandakan rasa lega atau sekadar rasa senang melihat sebuah drama akhirnya menemukan titik temu. “Wah... akhirnya juga ya. Setelah semua keributan kemarin.”
Beberapa detik kemudian, suasana ruangan kembali normal. Mesin printer kembali berdengung mencetak dokumen. Telepon di meja bagian depan berdering nyaring. Seseorang berjalan melewati meja Maria dengan langkah terburu-buru sambil mendekap map besar. Segala sesuatunya tampak seperti hari kerja biasa yang menjemukan.
Maria menatap layar komputernya. Deretan angka-angka digital di sana tiba-tiba terasa sedikit kabur, seolah-olah fokus matanya mendadak bergeser ke tempat yang jauh. Ia menarik napas pelan, mencoba menstabilkan degup jantungnya yang mulai berpacu liar di balik kemeja kerjanya.