Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #48

Chapter 48

Persiapan sebuah pernikahan sering kali dimulai dengan sesuatu yang sangat teknis, dingin, dan jauh dari kesan romantis: sebuah daftar.

Daftar tamu yang harus dipilah.

Daftar kebutuhan logistik yang mendesak.

Daftar tanggal-tanggal krusial yang harus disepakati sebelum gedung-gedung penuh dipesan orang lain.

Sore itu, di sudut sebuah kafe kecil yang tenang tak jauh dari area perkantoran, Ester membuka buku catatan bersampul kulit yang baru saja ia beli. Halamannya masih putih bersih, menyebarkan aroma kertas baru yang tajam, kecuali beberapa baris coretan tangan yang ia buat malam sebelumnya di bawah lampu kamar yang temaram.

Alex duduk di seberangnya. Pria itu nampak sedikit lelah, jemarinya melingkari secangkir kopi hitam yang uapnya sudah menghilang, membiarkan cairannya mendingin tanpa disentuh.

“Jadi... kurasa kita harus mulai dari menentukan tanggalnya dulu,” ucap Ester pelan, memecah kesunyian di antara mereka.

Alex mengangkat wajahnya, lalu memberikan anggukan pelan. “Tentu. Tanggal adalah prioritas.”

“Menurut keluargaku, kalau kita mengambil bulan depan, itu terlalu terburu-buru,” lanjut Ester, matanya tetap tertuju pada buku catatan, menghindari kontak mata yang terlalu intens. “Mereka pikir jeda dua bulan dari sekarang adalah waktu yang lebih masuk akal untuk mempersiapkan segalanya tanpa harus merasa dikejar-kejar.”

Alex memikirkan usulan itu selama beberapa detik. Ia mencoba membayangkan rentang waktu delapan minggu ke depan, waktu yang cukup untuk bernapas, namun juga cukup singkat untuk membuat debaran di dadanya tak kunjung reda.

“Dua bulan sudah cukup,” sahut Alex akhirnya.

Tidak ada perdebatan yang panjang di antara mereka. Tidak ada ego yang berusaha memenangkan keinginan masing-masing. Namun anehnya, bahkan percakapan administratif yang paling sederhana sekalipun terasa memiliki bobot yang tidak proporsional.

Bukan karena mereka tidak sepakat. Melainkan karena setiap keputusan kecil yang mereka ambil mulai dari memilih tanggal hingga menentukan jumlah undangan terasa seperti langkah kaki nyata menuju sebuah ambang pintu yang tidak akan pernah bisa mereka lalui untuk kembali. Setiap goresan pena di atas kertas itu adalah sebuah janji yang mengikat, sebuah segel pada takdir yang telah mereka pilih.

Ester mulai menuliskan tanggal yang baru saja mereka sepakati di buku catatannya. Tulisan tangannya nampak sangat rapi dan terkontrol, mencerminkan usahanya untuk tetap terlihat tenang di permukaan.

“Mengenai tempatnya... mungkin aula gereja saja sudah memadai,” gumam Ester lagi.

Alex kembali mengangguk, sebuah gerakan yang belakangan ini menjadi respons otomatisnya. “Ya, aku setuju. Tidak perlu sesuatu yang terlalu besar atau mewah. Cukup yang fungsional saja.”

Ester memberikan senyum kecil yang tipis. “Sepertinya kita memang selalu sepakat soal hal-hal mendasar seperti ini.”

Mereka sempat tertawa sebentar, sebuah tawa pendek yang kering, yang lebih berfungsi sebagai jeda untuk mengusir kecanggungan daripada sebuah ekspresi kegembiraan yang tulus.

Di meja sebelah mereka, dua orang mahasiswa sedang terlibat dalam percakapan yang riuh tentang rencana liburan musim panas mereka. Suara mereka terdengar begitu hidup, penuh dengan antusiasme yang jujur dan tidak rumit. Alex memperhatikan mereka sekilas, merasakan kontras yang tajam antara dunia para remaja itu dengan dunianya sendiri yang terasa begitu berat dan penuh pertimbangan.

Ia kembali menatap Ester. Ia mencintai wanita di hadapannya ini; itu adalah fakta yang tidak pernah ia ragukan, bahkan di saat-saat tersulit sekalipun. Namun, ia baru menyadari satu hal: cinta ternyata tidak selalu datang dengan perasaan ringan dan melayang seperti yang sering digambarkan dalam sajak-sajak klasik. Kadang-kadang, cinta justru datang bersama sebuah bayangan panjang yang tidak bisa dihindari, sebuah gravitasi yang menarik kaki mereka tetap berpijak pada bumi yang keras.

Ester menutup buku catatannya dengan suara pelan. “Kita juga harus mulai memikirkan desain undangan minggu ini.”

Lihat selengkapnya