Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #49

Chapter 49

Pagi itu, gereja tua itu nampak seperti sedang mandi di dalam kolam cahaya.

Sinar matahari pagi yang cerah menembus masuk melalui barisan jendela kaca patri yang menjulang tinggi, memecah berkasnya menjadi spektrum warna-warna lembut yang menari di atas lantai marmer yang mengilat. Warna biru safir, merah delima, dan kuning keemasan menyatu menjadi lukisan abstrak yang bergerak secara perlahan setiap kali awan di langit bergeser menghalangi surya. Aroma lilin yang baru dinyalakan dan wangi bunga segar yang memenuhi ruangan menciptakan atmosfer yang khidmat sekaligus menekan.

Bangku-bangku kayu jati yang kokoh telah tersusun rapi sejak fajar menyingsing. Beberapa di antaranya dihiasi dengan rangkaian bunga lili putih yang sederhana, sebuah pilihan dekorasi yang tidak berlebihan, namun cukup untuk memberikan kehangatan pada dinding-dinding batu yang dingin.

Di depan altar, Alex berdiri tegak dengan jas yang terasa sedikit terlalu kaku di bagian bahunya. Ia merasa seolah kain itu sedang memenjara tubuhnya. Kedua tangannya saling menggenggam erat di depan tubuh, sebuah usaha sia-sia untuk menenangkan getaran kecil di ujung jarinya yang sejak tadi enggan pergi. Keringat dingin tipis muncul di tengkuknya, bukan karena cuaca, melainkan karena beratnya momen yang sedang ia hadapi.

Satu per satu, orang-orang mulai mengisi bangku yang kosong.

Keluarga besar dengan wajah-wajah penuh haru. Teman-teman lama yang saling berbisik. Serta beberapa rekan kerja dari bank yang mengenakan pakaian terbaik mereka. Suara percakapan pelan yang teredam memenuhi ruangan, berbaur secara magis dengan alunan musik organ yang dimainkan dengan tempo lambat oleh seorang perempuan tua di sudut altar.

Semua berjalan persis seperti yang telah direncanakan dalam daftar panjang mereka. Namun, Alex tetap berdiri di sana dengan sebuah perasaan yang sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata. Matanya terus bergerak secara impulsif ke arah pintu besar gereja yang masih terbuka lebar, membiarkan udara luar masuk.

Setiap kali sosok baru muncul di ambang pintu, Alex secara tidak sadar menahan napas. Beberapa tamu memberikan senyum penuh dukungan kepadanya. Beberapa kolega menepuk bahunya dengan akrab, memberikan ucapan selamat yang singkat sebelum mencari tempat duduk. Alex membalas semua interaksi itu dengan senyum sopan yang ia latih di depan cermin, sebuah topeng profesionalisme yang terbawa hingga ke altar.

Namun, sesekali, tanpa ia mampu kendalikan, matanya selalu mencuri pandang ke arah barisan bangku paling belakang. Di sana, terdapat beberapa bangku yang masih belum terisi sepenuhnya, titik buta yang biasanya dipilih oleh mereka yang datang terlambat, atau oleh jiwa-jiwa yang tidak ingin terlalu mencolok dalam sebuah keramaian.

Alex tidak tahu mengapa ia terus mencari-cari sesuatu di barisan belakang itu. Namun, ada satu kursi di sudut paling belakang yang terasa jauh lebih kosong dibandingkan kursi-kursi lainnya. Sebuah tempat yang sebenarnya tidak pernah dipesan secara khusus. Namun entah mengapa, di dalam batinnya, ia sangat tahu. Ia tahu persis siapa sosok yang tidak akan pernah duduk di sana hari ini.

Di belahan kota yang lain, pada waktu yang hampir bersamaan, Maria sedang berdiri tegak di balik jendela kaca teller bank yang dingin.

Seragam kerjanya tampak licin dan rapi tanpa cela. Rambut hitamnya disanggul sederhana di belakang kepala, menampilkan profil wajah yang tenang dan fokus. Di depannya, seorang nasabah lanjut usia menyerahkan sebuah buku tabungan kusam dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Maria, lengkap dengan senyum profesional yang sudah menjadi bagian dari identitasnya sehari-hari.

“Selamat pagi, Nak,” jawab wanita tua itu parau.

Jemari Maria bergerak dengan kecepatan yang presisi di atas keyboard komputer. Ia memeriksa data, mengetikkan beberapa urutan angka nominal, lalu mencetak slip transaksi dengan suara mesin yang berderik, sebuah gerakan yang sudah sangat ia hafal hingga ia bisa melakukannya sambil memejamkan mata. Rutinitas administratif ini terasa sangat menenangkan baginya. Di dunia perbankan, angka-angka selalu bersifat jujur dan absolut. Mereka tidak memiliki ruang untuk ambiguitas, sangat berbeda dengan perasaan manusia yang sering kali penuh dengan area abu-abu.

“Sudah selesai transaksinya, Bu. Silakan diperiksa kembali,” ucap Maria sambil menyerahkan buku tabungan itu melalui celah kaca.

“Terima kasih banyak ya, Nak. Kamu baik sekali.”

Lihat selengkapnya