Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #50

Chapter 50

Bandara selalu memiliki aroma yang khas: percampuran antara avtur, kopi mahal yang diseduh terburu-buru, dan aroma dingin dari mesin pendingin ruangan yang bekerja tanpa henti. Bagi banyak orang, tempat ini adalah gerbang menuju petualangan baru, namun bagi sebagian lainnya, bandara tidak lebih dari sebuah monumen besar bagi perpisahan yang tak terelakkan.

Pagi itu, langit di luar dinding kaca terminal nampak pucat, seperti selembar kertas yang dibasahi air. Awan kelabu tipis menyelimuti cakrawala, membuat cahaya matahari yang mencoba menembus masuk terasa lemah, hambar, dan dingin. Di dalam gedung, lampu-lampu LED putih menyala terang benderang, memantulkan bayangan orang-orang yang bergerak dinamis dengan koper-koper besar, tas punggung yang sarat beban, dan wajah-wajah yang dipenuhi oleh tujuan masing-masing.

Doni berdiri mematung di depan papan informasi keberangkatan yang menjulang tinggi.

Barisan huruf digital berwarna kuning neon di atas layar hitam bergerak pelan dengan bunyi klik yang teratur, menampilkan kota-kota yang terasa sangat jauh namun sekaligus begitu dekat di ujung jarinya: Singapura, Kuala Lumpur, Tokyo, Seoul. Doni menatap layar itu dengan pandangan kosong, tidak benar-benar mencari jadwal penerbangan tertentu, melainkan hanya membiarkan matanya menangkap pergantian status dari Check-in menjadi Boarding.

Tas ransel hitamnya tergantung lesu di salah satu bahu. Di tangan kanannya, ia menggenggam selembar tiket pesawat yang sudah ia lipat menjadi dua bagian, sebuah kertas kecil yang kini menjadi satu-satunya bukti fisiknya untuk melarikan diri dari realitas yang menyesakkan.

Di sekelilingnya, kehidupan berdenyut dengan kecepatan yang tidak memedulikan batinnya yang sedang melambat. Beberapa orang lewat di belakangnya dengan langkah tergesa, sepatu mereka berderap keras di atas lantai marmer yang mengilat. Seorang anak kecil berlari sambil tertawa lepas, dikejar oleh ibunya yang nampak setengah panik dengan napas terengah. Di sudut lain, seorang pria paruh baya berbicara dengan nada tinggi di telepon, seolah-olah bandara ini adalah ruang kerja pribadinya yang cukup luas untuk menampung segala kecemasan bisnisnya.

Namun bagi Doni, semua kebisingan itu terasa seperti suara yang diredam dari balik air. Jauh dan tidak relevan. Ia berdiri di sana seperti seseorang yang sedang membaca paragraf terakhir dari halaman paling belakang sebuah buku tebal yang sudah terlalu lama ia peluk erat. Buku itu sudah selesai, dan ia hanya sedang menunggu keberanian untuk benar-benar menutup sampulnya.

Pesawatnya belum memasuki waktu boarding. Masih ada waktu yang tersisa. Namun ia menyadari, sebenarnya bukan pesawat itu yang ia tunggu, melainkan sebuah titik akhir yang sah di dalam hatinya sendiri.

Doni menarik napas pelan, merasakan udara dingin bandara mengisi paru-parunya. Beberapa minggu terakhir, hidupnya terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Kabar tentang pernikahan Alex dan Ester sudah sampai ke telinganya beberapa hari yang lalu. Kabar itu tidak datang melalui undangan resmi yang dikirim ke rumahnya, tidak pula melalui pesan singkat dari mereka yang terlibat. Kabar itu mengalir begitu saja melalui percakapan santai di sebuah kedai kopi, berpindah dari satu mulut ke mulut lain hingga akhirnya mendarat di batinnya.

“Mereka sudah resmi menikah ya.”

Kalimat itu sangat sederhana. Pendek. Namun kekuatannya cukup untuk menutup sebuah bab panjang dalam hidup Doni dengan cara yang sangat tenang, tanpa perlu ada ledakan amarah.

Anehnya, Doni tidak merasakan gelombang kemarahan yang membara saat pertama kali mendengarnya. Ia tidak merasa ingin meraih ponsel, menelepon Alex, dan menuntut penjelasan atas pengkhianatan atau persahabatan yang retak. Ia juga tidak merasa perlu mengirimkan pesan penuh lara kepada Ester untuk mempertanyakan alasan di balik semua ini, hal-hal yang sebenarnya sudah ia pahami secara intuitif sejak lama.

Perasaan yang ia rasakan jauh lebih rumit dan berlapis.

Ia tidak bisa membenci Alex sepenuhnya. Masa lalu mereka, persahabatan yang pernah mereka bangun di atas keringat dan tawa, terlalu jujur untuk dibuang begitu saja hanya karena sebuah plot cinta yang berakhir berbeda dari ekspektasi. Ia juga tidak bisa menyalahkan Ester. Ia sadar sepenuhnya bahwa cinta bukanlah sebuah komoditas yang bisa dipaksa untuk tetap tinggal hanya karena seseorang telah lebih dulu menanam benih di sana.

Lihat selengkapnya