Malam pertama setelah sebuah pesta pernikahan sering kali digambarkan dalam literatur atau film sebagai momen yang penuh dengan keringanan hati. Orang-orang membayangkannya sebagai waktu yang dipenuhi tawa yang tersisa dari resepsi, cerita-cerita bahagia tentang tamu yang datang, atau sekadar rasa lega yang meluap setelah berbulan-bulan didera persiapan yang melelahkan. Ada ekspektasi tentang euforia yang tak terbendung.
Namun bagi Alex dan Ester, malam itu justru terasa jauh lebih sunyi dan berat daripada yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Resepsi telah usai beberapa jam yang lalu. Hiruk-pikuk suara manusia dan denting sendok garpu telah memudar. Para tamu telah pulang satu per satu, membawa serta ucapan selamat yang hangat dan doa-doa normatif. Di aula bawah, meja-meja bunga mulai dibereskan secara mekanis oleh petugas gedung yang ingin segera mengakhiri syif mereka. Lampu-lampu kristal dipadamkan satu demi satu, meninggalkan kegelapan yang merayap di sudut ruangan yang beberapa jam lalu menjadi saksi janji suci mereka.
Kini, mereka berada di sebuah kamar hotel yang luas, tertata rapi namun terasa asing. Kamar itu terletak di lantai yang cukup tinggi, memberikan jarak yang cukup jauh dari kebisingan jalanan di bawahnya. Dari balik jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, lampu-lampu kota nampak seperti jutaan bintang kecil yang jatuh berserakan ke bumi, berpendar dalam keruwetan yang indah.
Gaun pengantin Ester, yang seharian tadi nampak begitu megah, kini tergantung lesu di sandaran kursi dekat lemari. Jas Alex terlipat tanpa bentuk di atas sofa. Tanpa atribut-atribut formal itu, kamar tersebut mendadak dipenuhi oleh keheningan yang menyesakkan.
Alex berdiri mematung di dekat jendela, memunggungi ruangan. Ia membuka dua kancing paling atas kemeja putihnya yang masih kaku. Bahunya terasa pegal luar biasa, sebuah beban fisik yang muncul setelah seharian ia dipaksa tersenyum, berjabat tangan dengan ratusan orang, dan menerima ucapan selamat yang sering kali terasa repetitif.
Di belakangnya, Ester duduk diam di tepi tempat tidur yang tertutup sprei putih bersih. Rambutnya yang tadi tersanggul rapi kini sudah terurai bebas, jatuh menutupi bahunya. Sebagian riasan wajahnya sudah ia bersihkan dengan kapas, menyisakan wajah aslinya yang nampak pucat. Tanpa segala kemeriahan ornamen pernikahan, Ester terlihat jauh lebih sederhana dan secara paradoks, terlihat jauh lebih nyata di mata Alex.
Untuk beberapa menit yang panjang, tidak ada satu pun dari mereka yang berani memecah kesunyian.
Hari itu terasa begitu panjang, seperti sebuah maraton emosional yang menguras energi batin. Begitu banyak wajah yang lewat, begitu banyak suara yang menyapa, dan begitu banyak momen yang kini hanya tersisa sebagai potongan-potongan film yang diputar dalam kecepatan tinggi di kepala mereka. Dan sekarang, ketika tirai pertunjukan akhirnya ditutup, yang tersisa hanyalah dua manusia yang sedang mencoba memahami gravitasi dari apa yang baru saja mereka lakukan.
Mereka sudah menikah. Secara hukum, secara agama, dan di mata sosial, mereka kini satu unit. Kalimat itu terasa sangat besar dan berwibawa, namun di dalam kamar itu, kenyataan tersebut terasa sunyi.
Alex memutar tubuhnya, berbalik dari jendela. Ia melihat Ester masih duduk mematung dengan kedua tangan bertumpu kaku di atas pangkuannya. Bahunya sedikit menunduk, seolah-olah sedang menahan beban yang tak terlihat.
“Kamu capek?” tanya Alex, suaranya terdengar pelan dan serak di tengah kesunyian kamar.
Ester memberikan anggukan kecil tanpa mengangkat wajahnya. “Sedikit.”
Alex melangkah mendekat, lalu duduk di samping istrinya. Kasur itu sedikit tenggelam di bawah berat tubuh mereka, menciptakan kemiringan yang mendekatkan posisi mereka. Untuk beberapa detik, mereka hanya duduk berdampingan tanpa saling menyentuh, seolah-olah ada dinding transparan yang masih berdiri di antara mereka.
Alex memperhatikan profil wajah Ester dari samping. Ia menangkap sesuatu yang berbeda di sana. Itu bukan sekadar kelelahan fisik karena kurang tidur atau berdiri terlalu lama. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang bersifat eksistensial.
“Ester,” panggil Alex lagi, lebih lembut.
Ester tidak langsung memberikan respons secara verbal. Namun Alex melihat bahunya bergerak sedikit, sebuah getaran halus seperti seseorang yang sedang berjuang keras menahan bendungan agar tidak pecah terlalu dini. Kemudian, Alex mendengar ritme napas Ester berubah. Napasnya menjadi lebih berat, lebih cepat, dan tidak stabil.
Alex menolehkan tubuhnya sepenuhnya ke arah Ester. Dan saat itulah ia melihatnya.
Air mata.
Itu bukan jenis tangisan yang deras atau dramatis yang disertai isakan keras. Hanya satu garis air mata tipis yang mengalir perlahan di pipi Ester, membelah sisa bedak yang masih menempel. Alex terdiam seribu bahasa. Ia tidak merasa panik, tidak juga langsung melontarkan rentetan pertanyaan. Ia hanya menunggu dengan sabar, memberikan ruang bagi Ester untuk mengekspresikan apa pun yang sedang ia rasakan.
Ester akhirnya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya mulai bergetar lebih nyata. Tangisnya sangat pelan, hampir tidak terdengar, seperti suara seseorang yang tidak ingin dunia tahu bahwa ia sedang berada dalam titik paling rapuhnya.