Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #52

Chapter 52

Pagi datang dengan kelembutan yang nyaris puitis.

Tirai satin di kamar hotel itu tidak sepenuhnya tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang membiarkan cahaya matahari awal merayap masuk. Sinar itu menyentuh lantai kayu dengan warna keemasan, bergerak perlahan mendaki dinding wallpaper bertekstur, sebelum akhirnya berhenti tepat di ujung tempat tidur Alex dan Ester yang masih terbaring berselimutkan keheningan.

Malam sebelumnya terasa sangat panjang. Bukan karena kegelisahan yang menyiksa, melainkan karena begitu banyak beban batin yang akhirnya ditumpahkan melalui kejujuran yang apa adanya. Setelah badai emosi itu mereda, yang tersisa hanyalah kedamaian yang asing namun menenangkan.

Kini, pagi terasa berbeda. Atmosfer di dalam ruangan itu terasa lebih ringan, seolah-olah gravitasi yang selama ini menekan bahu mereka telah sedikit melonggar.

Ester adalah orang pertama yang terjaga.

Ia tidak langsung beranjak. Ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit kamar yang berwarna krem pucat, mendengarkan suara AC yang berdengung halus dan sayup-sayup bunyi klakson dari jalanan jauh di bawah sana. Perlahan, ia menoleh ke samping. Alex masih terlelap. Wajah pria itu terlihat jauh lebih damai dibandingkan hari-hari sebelumnya. Garis-garis tegang di sekitar matanya melunak, dan kerutan kecil di dahinya seolah tersapu bersih oleh tidur yang lelap.

Ester memperhatikannya dengan saksama. Ada sensasi aneh yang menggelitik dadanya ketika ia menyadari bahwa pria di sampingnya ini, yang telah melewati begitu banyak drama dan kerumitan bersamanya, kini secara resmi adalah suaminya. Kata itu, suami, masih terasa baru, sedikit canggung, namun sekaligus memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia menarik napas perlahan, menghirup aroma maskulin Alex yang tertinggal di bantal, lalu tanpa sadar seulas senyum kecil terukir di bibirnya.

Alex bergerak sedikit. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka. Butuh beberapa detik baginya untuk mengumpulkan kesadaran sepenuhnya, namun begitu matanya menangkap sosok Ester yang sedang menatapnya, sorot matanya langsung berubah menjadi sangat lembut.

“Selamat pagi,” gumam Alex, suaranya masih berat dan serak karena baru bangun tidur.

Ester tertawa kecil, suara yang terdengar merdu di kesunyian pagi. “Selamat pagi.”

Untuk beberapa saat, mereka hanya saling mengunci tatapan dalam diam. Seolah-olah mereka sedang saling meyakinkan bahwa semua yang terjadi kemarin, janji suci, resepsi yang melelahkan, hingga air mata di kamar ini, bukanlah sekadar fragmen dari mimpi yang akan menghilang saat mereka sepenuhnya terjaga.

Alex mengulurkan tangan, ujung jarinya menyentuh pipi Ester dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah Ester adalah porselen yang bisa retak. “Kamu kelihatan jauh lebih tenang hari ini,” bisiknya.

Ester mengangguk, merasakan kehangatan telapak tangan Alex di kulitnya. “Sedikit lebih jernih. Rasanya seperti baru saja mencuci wajah setelah perjalanan yang sangat berdebu.”

Malam sebelumnya memang telah menguras energi emosionalnya secara total. Namun, setelah semua air mata dan pengakuan itu keluar, ia merasa bebannya terangkat. Pertanyaan-pertanyaan tentang masa lalu mungkin tidak sepenuhnya hilang, namun hatinya tidak lagi sesesak kemarin.

Alex mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Ia mengecup kening Ester dengan lama, sebuah tindakan yang terasa lebih seperti doa daripada sekadar sapaan. Ester menutup matanya, menikmati kehangatan dan rasa memiliki yang merambat ke seluruh tubuhnya.

Lihat selengkapnya