Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #53

Chapter 53


Hari itu terasa aneh sejak fajar menyingsing.

Bukan karena bank tempat mereka bekerja mendadak lebih ramai atau sunyi dari biasanya. Semuanya berjalan sesuai ritme otomatis yang sudah terlalu akrab bagi siapa pun yang menggantungkan hidup di sana: pintu kaca otomatis yang berdesis terbuka tepat pukul delapan, bunyi bip mesin antrean yang repetitif, serta deretan nasabah yang datang dengan beragam muatan emosi di wajah mereka, ada yang terburu-buru dikejar waktu, ada yang nampak lelah, atau sekadar mereka yang datang untuk urusan administratif tanpa jiwa.

Namun bagi Maria, setiap detik yang berdetak di jam dinding lobi memiliki arti yang berbeda. Hari ini adalah titik henti. Hari terakhirnya di kantor cabang ini sebelum besok ia harus melangkah ke Bandung Selatan untuk memulai segalanya dari nol.

Beberapa rekan kerja yang sudah mendengar kabar mutasinya sesekali menghampiri mejanya. Mereka mengucapkan selamat, memberikan lelucon ringan tentang suasana kantor baru yang konon lebih modern, dan berkata bahwa penyegaran suasana terkadang adalah hal terbaik dalam karier. Maria menanggapi itu semua dengan topeng yang sempurna: senyum sopan, anggukan tenang, dan jawaban yang tidak pernah berlebihan.

Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sebuah prosesi pemakaman kenangan yang sedang berlangsung perlahan.

Di dalam laci mejanya, tersembunyi sebuah amplop putih tipis. Di dalamnya ada selembar surat yang ia tulis sebulan lalu, tepat pada malam ia menerima surat mutasi resminya. Malam itu begitu hening di kamarnya. Hanya ada suara dengung kulkas tua dan lampu meja yang berpendar redup. Surat mutasi itu tergeletak di meja seperti sebuah interupsi dari semesta yang memberitahunya bahwa sudah waktunya untuk pergi.

Ia ingat bagaimana jemarinya memegang pena malam itu. Ia tidak merencanakan kata-kata yang akan keluar. Ia hanya membiarkan hatinya yang bicara di atas kertas. Tentang Alex. Tentang rasa terima kasih yang masih tersisa meski hatinya pernah hancur. Tentang sebuah pengakuan bahwa bagaimanapun akhirnya, Alex pernah menjadi warna paling terang dalam hidupnya yang abu-abu.

Sejak malam itu, surat itu selalu ia simpan di dalam laci, seperti sebuah jimat atau mungkin sebuah senjata yang ia sendiri ragu untuk gunakan. Ia tidak pernah benar-benar tahu apakah surat itu akan menemukan jalannya ke tangan pria itu.

Hari kerja bergulir menuju sore. Maria melayani nasabah dengan presisi seorang profesional, meskipun panca indranya secara konstan melacak keberadaan seseorang di sisi lain ruangan. Alex. Pria itu bekerja di meja operasional, hanya berjarak beberapa meter, namun terasa seperti berada di benua lain.

Mereka tidak berbicara secara personal hari itu. Kesibukan akhir bulan memberikan alasan yang sempurna bagi keduanya untuk tetap berada di zona aman masing-masing. Namun, sesekali Maria mencuri pandang. Alex nampak fokus, keningnya sedikit berkerut menatap layar monitor, sesekali berbicara dengan nada rendah kepada rekan kerja yang lain.

Alex sudah menikah. Fakta itu kini berdiri tegak di antara mereka seperti dinding beton yang tak terlihat. Bagi Maria, kenyataan itu bukan lagi sebuah luka terbuka yang berdarah, melainkan sebuah bekas luka yang sudah mengering. Halaman itu sudah selesai dibaca, dan kini ia hanya tinggal menutup bukunya.

Pukul lima sore, bank resmi ditutup untuk umum. Pintu terkunci. Nasabah terakhir telah pergi. Ruangan yang tadinya bising perlahan mendingin. Para pegawai mulai merapikan meja, memasukkan dokumen ke dalam map, dan bersiap untuk pulang.

Maria menarik tasnya. Sebelum ia beranjak, ia membuka laci mejanya sekali lagi. Amplop itu masih di sana. Ia menatapnya selama beberapa detik, merasakan pergulatan batin yang terakhir kali. Kemudian, dengan gerakan yang tegas, ia menutup laci tanpa mengambil surat itu.

Ia melangkah menuju lorong kecil dekat pintu staf yang menuju ke arah parkir belakang. Dan di sanalah, di ruang sempit yang hanya diterangi lampu neon pucat, ia bertemu dengan Alex.

Lihat selengkapnya