Hampir Kita

Dimas Hendra
Chapter #54

Chapter 54

Waktu tidak pernah berhenti untuk siapa pun. Ia berjalan seperti sungai yang tenang, tidak tergesa-gesa, namun tidak pernah benar-benar kembali ke hulu. Hari demi hari lewat dengan ritme yang semakin biasa, hingga luka-luka lama yang dulu terasa menganga, perlahan berubah menjadi jaringan parut; kenangan yang ada di sana, namun tidak lagi terasa tajam saat disentuh.

Beberapa tahun telah berlalu sejak hari di mana Alex dan Ester mengucap janji di depan altar yang sunyi.

Rumah kecil yang mereka tempati kini terasa jauh lebih hidup. Bukan karena kemewahan, melainkan karena kebiasaan-kebiasaan kecil yang terbentuk secara organik tanpa mereka sadari. Ester kini terbiasa bangun lebih pagi, membiarkan aroma kopi dan roti panggang memenuhi dapur sebagai sapaan pertama untuk hari yang baru. Alex, di sisi lain, memiliki ritual kecil setiap malam, memeriksa kunci pintu dan jendela dengan ketelitian yang sama setiap harinya sebelum memadamkan lampu ruang tamu.

Hal-hal sederhana ini tidak pernah mereka rencanakan dalam kontrak pernikahan mana pun, namun perlahan mereka menjadi napas dari kehidupan bersama.

Ester menjalani perannya sebagai istri dengan kesetiaan yang tenang. Ia tidak pernah mencoba menjadi sosok yang sempurna atau tanpa cela. Ia hanya mencoba hadir sepenuhnya setiap hari dengan hati yang sama seperti ketika ia pertama kali memutuskan untuk mempertaruhkan segalanya demi Alex.

Kadang, di saat-saat sepi, ia masih mengingat masa lalu, bukan dengan rasa penyesalan yang pahit, melainkan dengan sebuah kesadaran dewasa bahwa hidup pernah memberinya sebuah pilihan yang sangat sulit. Pilihan yang ia tahu tidak akan bisa menyenangkan semua orang, pilihan yang harus mengorbankan perasaan orang lain.

Namun, setiap kali ia melihat Alex duduk di ruang tamu dengan bahu yang merosot karena kelelahan setelah pulang kerja, Ester tahu satu hal dengan pasti di dalam batinnya: ia tidak salah memilih untuk tetap berjalan di jalan yang terjal ini.

Alex sendiri berubah dengan cara yang lebih sunyi. Ia tetap bukan pria yang pandai merangkai kata-kata puitis tentang perasaan. Namun sejak pernikahan itu, ia memahami satu kebenaran sederhana, bahwa tanggung jawab tidak selalu harus terasa seperti beban yang menghimpit. Kadang, tanggung jawab justru menjadi bentuk cinta yang paling jujur dan paling maskulin yang bisa ia berikan.

Ia bekerja lebih keras dari sebelumnya. Bukan karena didorong oleh ambisi buta untuk kekuasaan, melainkan karena ia ingin memastikan bahwa rumah kecil tempat Ester berada tetap berdiri dengan kokoh dan tenang.

Beberapa orang yang melihat mereka mungkin akan menyebut kehidupan mereka bahagia. Dan itu tidak sepenuhnya salah. Mereka memang bahagia. Namun, kebahagiaan mereka bukanlah jenis kebahagiaan yang berkilau atau meledak-ledak seperti dalam cerita dongeng. Kebahagiaan mereka lebih bersifat subtil dan membumi.

Cukup bahagia untuk bertahan melewati badai kecil. Cukup bahagia untuk terus memilih satu sama lain, setiap pagi, saat mereka membuka mata.

Sementara itu di Amerika, Doni berdiri di tengah gedung yang dipenuhi sorakan membahana dari ribuan penonton.

Lampu-lampu sorot raksasa menyinari Sangkar Arena, membuat segalanya nampak seperti panggung megah. Kamera-kamera televisi mengarah tepat ke wajahnya. Nama Doni diteriakkan oleh pembawa acara dengan nada penuh kebanggaan yang meluap-luap. Ia baru saja memenangkan sebuah turnamen fighting championship besar di tingkat internasional.

Bendera negara berkibar dengan gagahnya di layar LED raksasa di belakangnya. Di hadapannya, para wartawan berebut mencatat setiap kata yang keluar dari mulutnya, sementara penggemar berdesakan hanya untuk mendapatkan tanda tangan atau sekadar foto bersama. Nama Doni kini telah menjadi legenda; ia adalah atlet yang diperhitungkan, simbol dari disiplin dan kerja keras yang membuahkan hasil.

Banyak orang memandangnya dengan rasa kagum yang luar biasa, mereka hanya melihat medali emas, trofi yang berkilau, dan kejayaan yang nampak tanpa celah.

Namun, ketika malam tiba dan gedung mulai kosong menyisakan kesunyian, Doni sering kali kembali ke kamar hotelnya yang mewah namun dingin, sendirian. Trofi kemenangannya berdiri kaku di atas meja. Medali tergeletak begitu saja di samping tas olahraganya yang kusam.

Lihat selengkapnya