Hampir Sampai

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #1

Undangan Jam Sepuluh Pagi

Undangan itu ditaruh di meja kerja gue jam sepuluh pagi tadi.

Warnanya abu-abu pastel dengan tekstur matte yang halus, tipe selera cewek-cewek Pinterest. Di bagian depannya, nama Lintang tertulis jelas, lengkap dengan gelar sarjananya yang dulu gue temenin sidangnya sampai larut malam. Di samping nama itu, ada nama perempuan lain. Elena. Cetakannya rapi, tebal, dengan tinta emas yang berkilau di bawah lampu kubikel kantor gue yang pudar. Tidak ada keraguan di atas huruf-huruf itu. Berbeda sekali dengan namanya yang dulu sering gemetar tiap kali gue sebut di dalam doa-doa selepas magrib.

Teman-teman sekantor langsung bisik-bisik, memandang gue dengan tatapan kasihan yang tipis tapi berisik. Nining yang duduk di kubikel sebelah sengaja menggeser kursinya, berniat membuka mulut, tapi buru-buru gue potong dengan memakai earphone tanpa memutar lagu apa pun. Gue gak butuh pertanyaan retoris macam, “Lo gak apa-apa, Ki?” atau “Bukannya ini cowok yang lo temenin dari SMA?”

Gue gak nangis. Air mata gue sudah habis setahun lalu di parkiran yang dingin itu, pas dia mutusin gue sambil nangis-nangis, bilang kalau dia cowok berengsek yang gak pantas ditunggu. Dulu gue kira dia ngelepasin gue karena dia tahu diri dengan segala beban finansial keluarganya. Hari ini gue baru sadar, dia ngelepasin gue cuma buat nyari penumpang baru yang bisa langsung duduk di kursi depan mobil barunya, tanpa perlu tahu rasanya kehujanan bareng gue di atas motor bebek tua zaman sekolah.

Gue menyandarkan punggung ke kursi kerja, menatap ke luar jendela lantai empat yang menampilkan kemacetan Jakarta yang jenuh. Di kota yang sama, di wilayah yang masih satu aspal dengan tempat gue bernapas sekarang, Lintang sudah selesai dengan segala ragunya.

Gue meraba sudut undangan yang kaku itu. Lima tahun kerja di kota ini, dia selalu bilang belum siap, kota ini terlalu mahal buat kita bikin rumah tangga. Tapi nyatanya, begitu ada orang lain yang nawarin atap, dia langsung pindah alamat tanpa mikir dua kali. Kota ini gak pernah kemahalan buat Lintang. Guenya aja yang gak cukup.

Sisa hari itu berjalan seperti jembatan yang rapuh. Monitor komputer di depan gue hanya menampilkan deretan angka laporan bulanan yang buram. Pikiran gue bolak-balik terlempar ke masa lalu, lalu dipaksa tegak kembali oleh suara ketikan kibor anak-anak divisi marketing.

Setiap jam tiga sore, biasanya ada pesan masuk. “Udah makan belum? Jangan telat, nanti maagmu kambuh.” Dulu, pesan pendek dari Lintang adalah bahan bakar gue buat bertahan sampai jam pulang kantor. Sekarang, layar ponsel gue bersih dari namanya. Yang ada hanyalah grup WhatsApp kantor yang sibuk membahas revisi kerjaan.

"Ki, lo mau bareng ke depan?" Nining menepuk pundak gue saat jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Seluruh kubikel mulai sepi.

Lihat selengkapnya