Gue melempar tas kerja ke atas meja dapur kontrakan Lintang yang sempit. Bau minyak goreng bekas dan sisa tumis kangkung sore tadi langsung menyengat hidung.
Hari itu tahun ketiga kami di Jakarta. Usia gue dua puluh tiga, Lintang dua puluh empat. Kami sama-sama baru pulang kerja, sama-sama punya kantung mata segaris hitam, dan sama-sama lelah dihantam rute bus Transjakarta yang penuh sesak.
"Gaji gue bulan ini kepotong lagi, Ki," kata Lintang tanpa menoleh. Dia berdiri di depan kompor, membelakangi gue, sibuk menuang air panas ke dalam dua mangkuk mi instan. "Adik gue yang nomor dua butuh biaya buat praktikum akhir semester. Nyokap juga nelepon tadi sore, katanya token listrik di rumah udah bunyi."
Gue gak langsung merespons. Gue membuka flatshoes, memijat tumit gue yang lecet karena kelamaan berdiri di koridor halte. "Kurang berapa emang, Lin?"
"Tiga ratus ribu lagi." Lintang membawa dua mangkuk mi itu ke meja, lalu duduk di kursi plastik warna hijau yang salah satu kakinya sudah diganjal potongan kardus. Dia menunduk, menatap asap yang mengepul dari mangkuknya. "Tabungan kita buat DP rumah... gue ambil dikit ya, Ki? Nanti pas bonus akhir tahun cair, gue ganti. Janji."
Gue menatap wajahnya. Sisi rahangnya makin tegas, kurus. Gak ada lagi sisa-sisa cowok SMA yang dulu hobi tebar pesona di lapangan basket sekolah. Yang ada di depan gue sekarang adalah seorang buruh kantoran yang pundaknya dipaksa kokoh sebelum waktunya.
"Pake aja," kata gue pendek, lalu meraih garpu. "Gak usah dipikirin. Yang penting urusan keluarga lo kelar dulu."
Lintang mendongak. Ada kilat bersalah di matanya, tipe tatapan yang belakangan ini makin sering gue lihat tiap kali kami membahas soal uang. "Gue selalu bikin lo nunggu ya, Ki?"
"Gue kan udah bilang dari awal, Lin. Gue nemenin lo bukan buat balapan sama orang lain. Makan tuh mi-nya, keburu lembek."