Hampir Sampai

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #3

Selamat Datang di Dunia Orang Dewasa

Nining melempar tumpukan map kertas berlogo perusahaan ke atas meja gue sampai menimbulkan bunyi gedubrak yang lumayan bikin sakit kuping.

"Rekonsiliasi vendor dari cabang Surabaya ditolak lagi sama orang keuangan, Ki," kata Nining sambil menarik kursi putar di depan kubikel gue. Mukanya udah kusut, lipstiknya yang tadi pagi merah segar sekarang udah pudar di ujung bibir akibat kebanyakan minum kopi instan. "Katanya ada selisih dua ratus lima puluh ribu di nota bensin sama parkir. Gila gak? Perusahaan omzet miliaran tapi perkara duit parkir dua ratus perak aja diributin."

Gue menggeser dokumen-dokumen itu, membukanya satu per satu dengan pulpen di tangan kanan. "Orang audit emang begitu, Ning. Kalau gak presisi, nanti mereka yang digencet pas akhir tahun. Sini, biar gue yang periksa ulang. Lo urusin yang cabang Medan aja."

Nining menatap gue, matanya yang lelah mendadak berbinar. "Serius, Ki? Ya ampun, lo emang penyelamat hidup gue minggu ini. Kalau ini kelar, gue utang makan siang di kantin belakang ya."

"Gak usah lebay. Sana balik ke meja lo, tar manajer lewat makin panjang urusannya." Gue mengibaskan tangan, menyuruhnya pergi.

Begitu Nining balik ke kubikelnya, gue langsung fokus ke layar monitor. Jari-jari gue menari di atas kalkulator fisik, menekan tombol-tombolnya dengan ritme yang cepat dan konstan. Di dunia kerja, gak ada waktu buat melamun atau meratapi nasib. Angka-angka di Excel gak bakal bener sendiri cuma karena lo lagi patah hati. Gue butuh performa kerja gue tetap stabil bulan ini karena gosip reposisi jabatan di divisi administrasi lagi gencar-gencarnya, dan gue mengincar posisi senior staf yang tunjangannya lumayan banget buat nambah bayaran kosan.

Jam istirahat siang, kantin belakang gedung kantor penuhnya gak ngotak. Bau asap rokok, uap soto ayam, dan gorengan bercampur jadi satu. Gue duduk di pojokan bareng Nining, masing-masing megang sepiring nasi rames dan es teh manis.

"Eh, Ki, lo denger gak? Anak magang baru di divisi kreatif katanya keponakannya komisaris?" Nining mulai membuka sesi gosip harian sambil mengunyah kerupuk.

"Gak tahu. Gak peduli juga gue, Ning. Selama dia gak ngerepotin divisi kita, biarin aja mau dia anak siapa," jawab gue lempeng, menyuap nasi pakai potongan tempe oreg.

"Ih, lo mah lempeng banget jadi orang. Hidup lo isinya cuma kerja, pulang, kerja, pulang. Gak bosen apa?"

Lihat selengkapnya