Hampir Sampai

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #4

Tiga Meter

"Nama lo masuk di daftar tiga besar kandidat Senior Administrator, Ki," Nining berbisik setengah mendesis sambil menyodorkan ponselnya ke depan muka gue, tepat di atas kubikel. Di layarnya, ada foto dokumen internal memo yang blur, kayaknya hasil jepretan buru-buru. "Gue bilang juga apa. Orang pusat gak buta. Rekonsiliasi data lo bulan lalu yang paling bersih dari semua divisi."

Gue melirik layar ponsel Nining tanpa menghentikan ketikan tangan gue di kibor. "Itu baru draf usulan, Ning. Belum ada tanda tangan direksi. Masih bisa berubah dalam semalam."

"Tapi saingan lo berat, Ki. Ada si Bagas dari divisi logistik, sama anak baru titipan manajer operasional," Nining menarik kembali ponselnya, mukanya mendadak serius. "Lo harus bener-bener pasang badan di rapat koordinasi besok Jumat. Presentasi laporan triwulan lo jangan sampai ada celah sedikit pun."

"Iya, gue tahu. Makanya ini gue lagi ngecek ulang data vendor logistik," jawab gue, mata tetap fokus pada baris-baris angka di monitor. "Lo udah kelar belum rekap absen divisi sebelah? Sini gue bantu input kalau belum."

"Dikit lagi. Nanti gue kirim filenya," Nining berdiri, bersiap balik ke mejanya, tapi langkahnya tertahan. Dia menatap gue dengan pandangan menilai. "Ki, lo malam ini lembur lagi?"

"Kayaknya sampai jam delapan. Kenapa?"

"Gak apa-apa. Cuma... lo belakangan ini keliatan kurusan. Jangan lupa makan malam. Kantor gak bakal bangkrut kalau lo sakit, tapi badan lo yang rugi."

Gue cuma mendehem pendek sebagai jawaban. Begitu Nining pergi, gue menghela napas panjang, bersandar sebentar ke kursi kerja yang sandarannya sudah agak longgar. Nining benar soal satu hal: gue harus mengambil posisi senior staf ini. Kenaikan gaji dari promosi jabatan ini artinya gue bisa mulai mencicil asuransi kesehatan yang lebih bagus dan mungkin, pindah ke kamar kosan yang jendelanya langsung menghadap ke luar, bukan menghadap ke lorong dalam yang pengap. Gue butuh masa depan yang mandiri, dan di dunia nyata, masa depan itu dibeli pakai uang, bukan pakai air mata.

Rapat koordinasi hari Jumat berjalan seperti medan perang yang senyap. Ruang rapat lantai dua yang ber-AC dingin terasa makin mencekam saat manajer keuangan mulai mempertanyakan efisiensi anggaran divisi administrasi.

Bagas, saingan gue dari divisi logistik, sempat mencoba melempar kesalahan keterlambatan laporan ke divisi gue. Tapi gue sudah siap. Sebelum dia selesai bicara, gue langsung membuka berkas lampiran halaman dua belas, menunjukkan lembar kendali yang membuktikan bahwa divisi logistiklah yang menahan data bensin selama empat hari kerja.

Lihat selengkapnya