"Lo bisa santai dikit gak sih, Ki? Ini cuma salah ketik satu angka di lampiran draf, bukan korupsi anggaran," suara Nining meninggi, tertahan di antara sekat kubikel yang sempit. Dia membanting map kuning ke atas meja gue dengan napas yang memburu. "Gue udah lembur dua hari berturut-turut, mata gue udah sepet. Gak usah lo balikin dengan catatan revisi spidol merah segede gaban begini seolah-olah kerjaan gue gak ada benernya."
Gue tidak langsung mendongak. Gue menyelesaikan satu baris input data, menekan tombol enter dengan penekanan yang agak keras, baru menatap Nining lempeng.
"Salah satu angka di bagian logistik itu efeknya domino, Ning. Kalau audit internal nemu selisih ini pas prapromosi besok Senin, yang kena bukan cuma lo, tapi draf usulan senior staf gue juga bisa ditinjau ulang," suara gue dingin, datar, tanpa ada riak bersalah. "Gue gak mau rencana gue berantakan cuma karena lo males ngecek ulang hal sepele."
Nining mendengus kencang, menatap gue dengan pandangan yang gak pernah gue lihat sebelumnya dari dia. Kecewa, campur sebal yang mendalam. "Lo belakangan ini makin gak punya hati ya, Ki. Gila kontrol banget. Semua orang di divisi ini lo anggap bakal bikin lo rugi."
Dia menarik kursinya kasar, berbalik memunggungi gue tanpa pamit.
Gue menatap punggung Nining yang menjauh. Ada rasa bersalah yang sempat mencubit dada gue, tapi buru-buru gue tenggelamkan lagi. Gue gak punya kemewahan buat jadi bos yang baik hati atau teman yang pengertian sekarang. Dunia kerja gak peduli sama proses, mereka cuma peduli sama hasil yang bersih. Sejak Lintang pergi dengan alasan "belum siap", gue bersumpah gak akan membiarkan ada satu hal pun di hidup gue yang berjalan tanpa rencana yang matang. Ketidakpastian adalah musuh terbesar gue sekarang, dan gue akan memotong apa pun—atau siapa pun—yang berpotensi merusak struktur aman yang sudah gue bangun susah payah.