Restoran ramen di daerah Jakarta Selatan itu bising oleh denting mangkuk dan musik pop Jepang yang diputar lewat pengeras suara di sudut langit-langit. Gue duduk di depan Nisa, teman sebangku gue waktu kelas sebelas SMA yang sekarang kerja sebagai manajer humas di sebuah agensi swasta.
"Gue awalnya ragu mau ngajak lo ketemu, Ki," Nisa membuka obrolan setelah menelan suapan pertama mi-nya. Dia menatap gue hati-hati. "Tapi ya... lo tahu sendiri anak-anak grup alumni SMA lagi heboh banget semenjak Lintang nyebar undangan digital dua hari lalu."
Gue menuangkan kecap asin ke mangkuk kecil dengan tangan yang stabil. "Gak apa-apa, Nis. Santai aja. Undangan fisiknya bahkan udah nyampe di meja kantor gue minggu lalu kok."
Nisa agak tersedak, bur-buru meminum es teh manisnya. "Serius? Lintang beneran nganterin ke kantor lo? Gila, tu anak nyalinya gede juga ya setelah apa yang terjadi."
"Bukan dia yang anter, kurir paket," jawab gue lempeng. "Gue juga ketemu dia sekilas di parkiran tempo hari. Biasa aja. Kami udah selesai setahun lalu, Nis. Gak perlu ada yang didramatisir."
Nisa bersandar ke kursinya, menatap gue dengan pandangan sangsi yang khas. Dia tahu betul sejarah tujuh tahun gue sama Lintang. "Lo emang selalu bisa keliatan tenang ya, Ki. Dari dulu topeng lo gak pernah berubah. Tapi jujur, lo udah tahu belum siapa ceweknya? Si Elena itu?"
Gue menghentikan sumpit gue yang baru mau menjepit potongan daging. Ada rasa gatal yang familier di dada gue, rasa ingin tahu yang beracun, tapi gue menahannya agar tidak terlihat kentara di wajah. "Cuma tahu nama. Anak mana emang?"