Gerimis di perempatan Pancoran jam sebelas malam itu terasa lengket di kulit. Jakarta baru saja diguyur hujan besar sejam yang lalu, meninggalkan aspal yang basah dan uap jalanan yang pengap.
Motor bebek Lintang mendadak batuk dua kali sebelum akhirnya mati total tepat di lajur tengah, memaksa kami mendorongnya membelah kemacetan ke arah trotoar di bawah kolong jembatan layang.
Gue turun dari boncengan, melepas helm dengan sentakan kasar sampai talinya sempat menjepit kulit dagu gue. Napas gue memburu, bukan karena lelah berjalan kaki sejauh lima puluh meter, tapi karena tumpukan emosi yang sudah kami bawa sejak keluar dari rumah orang tua Lintang di Depok dua jam lalu.
Lintang langsung berlutut di samping motornya, mencoba menyelah engkol berkali-kali. Suara trek... trek... trek... dari besi yang beradu itu terdengar menyedihkan di antara deru mobil-mobil yang melaju kencang di samping kami.
"Udah, Lin. Gak usah dipaksa. Karbunya banjir lagi itu pasti," kata gue, suara gue bergetar menahan dingin sembari menahan tangis. "Kita naik taksi aja. Motornya titip di pos satpam gedung seberang."
"Gak bisa, Ki. Ongkos taksi dari sini ke kosan lo berapa? Terus besok pagi-pagi gue harus narik motor ini lagi ke bengkel, bayar montir lagi," Lintang menyahut tanpa mendongak. Tangannya yang sudah hitam kena oli rantai terus mencoba memutar busi. "Uang gue sisa lima puluh ribu di dompet. Buat makan sampai hari Senin besok."
Gue memalingkan muka, menatap lampu merah perempatan Pancoran yang berganti warna dengan lambat.
Malam itu, kami baru saja pulang dari acara selamatan kelulusan adik perempuan Lintang. Di sana, bapak Lintang sempat menarik gue ke sudut teras, bertanya dengan suara pelan yang penuh rasa bersalah, “Nduk, bapak minta maaf ya, Lintang belum bisa datang ke rumah kamu. Tabungannya bapak pakai dulu buat nebus ijazah adiknya.” Gue cuma bisa tersenyum, mengangguk, dan bilang kalau semuanya gak apa-apa.