Lembar keputusan direksi itu masih terasa hangat saat keluar dari mesin pencetak kubikel divisi administrasi. Di baris ketiga lampiran, di bawah kop surat resmi perusahaan, nama gue tercetak jelas: Kiara Anindita – Senior Administrator.
"Selamat ya, Ki. Akhirnya ketok palu juga," Nining menaruh segelas kopi susu hangat di samping keyboard gue. Nada suaranya sudah kembali normal, tidak ada lagi sisa ketegangan dari pertengkaran kami minggu lalu. "Mulai bulan depan kubikel lo pindah ke jajaran depan, deket jendela besar noh."
Gue menatap lembaran kertas itu, lalu mendongak menatap Nining. Gue memaksakan sebuah senyuman tipis. "Makasih, Ning. Ini juga karena rekap data dari lo kemarin rapi."
"Ah, gue mah cuma bantu dikit. Emang lo-nya aja yang kerjanya kayak robot, gak ada celah," Nining terkekeh, lalu menepuk pundak gue sekilas sebelum balik ke mejanya sendiri.
Gue melipat lembar keputusan itu menjadi dua, lalu memasukkannya ke dalam laci paling bawah, di bawah tumpukan map korporat. Gak ada letupan kebahagiaan yang berlebih di dada gue. Hanya ada rasa lega yang dingin, seperti akhirnya berhasil melunasi satu utang jangka panjang. Posisi ini adalah target yang gue kejar dengan cara memotong waktu tidur, mematikan perasaan, dan mengunci diri dari lingkungan sosial selama berbulan-bulan. Gue berhasil mendapatkan apa yang gue mau di kota ini lewat kerja keras gue sendiri.
Harusnya hari ini gue merasa menang.
Jam tujuh malam, sisa-sisa hujan sore tadi menyisakan aspal yang basah dan kilau lampu jalanan yang memantul di genangan air. Gue memutuskan pulang cepat, tidak mengambil lembur seperti biasanya. Tubuh gue butuh istirahat, dan gue berniat memanjakan diri dengan memesan makanan yang sedikit lebih mahal di aplikasi sesampainya di kosan nanti.
Gue memesan ojek daring. Driver-nya datang lima menit kemudian, seorang bapak-bapak paruh baya yang langsung menyerahkan helm hijau berlogo perusahaan ke gue.
Gue naik ke jok belakang, merapikan rok kerja gue, dan motor pun melaju membelah kemacetan jalur arteri Slipi ke arah lampu merah Palmerah. Angin malam bertiup agak kencang, membawa aroma tanah basah dan asap knalpot yang pekat.