Hampir Sampai

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #11

Dialog yang Terlambat

Kedai kopi di dekat stasiun ini masih sama seperti dua tahun lalu: berisik oleh suara pengumuman kedatangan kereta, aroma mesin sangrai yang gosong, dan lantai semennya yang selalu tampak berdebu. Gue sengaja memilih meja paling sudut, di bawah kipas angin gantung yang berputar lambat.

Di atas meja, sebuah kotak sepatu bekas berwarna cokelat terletak di antara dua cangkir americano dingin yang permukaannya sudah mulai mencair.

Lintang duduk di depan gue. Dia memakai kemeja flanel kotak-kotak longgar—bukan kemeja kerja taktis yang dia pakai saat bersama Elena kemarin. Dia menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan di atas meja, lalu mendorong kotak sepatu itu beberapa senti ke arah gue.

"Cuma ini yang tersisa di kosan lama gue, Ki," suara Lintang rendah, agak serak, khas orang yang baru saja menembus kemacetan jam pulang kantor naik motor. "Ada beberapa draf pelaporan lo zaman kuliah, buku tabungan kita yang... yang dulu itu, sama beberapa foto fisik."

Gue melirik kotak itu tanpa minat untuk membukanya. Gengsi di dalam dada gue mendadak naik ke tenggorokan, rasanya pahit dan panas. Sisa pertemuan gue dengan Elena minggu lalu masih membekas; kenyataan bahwa Elena begitu sempurna dan kompeten justru membuat gue merasa semakin kerdil hari ini. Gue gak mau kelihatan lemah di depan cowok yang sebentar lagi jadi suami orang.

"Lo bisa buang itu ke tempat sampah sebenarnya, Lin. Gak perlu repot-repot ngajak ketemu cuma buat barang rongsokan beginian," kata gue, suara gue keluar dengan nada ketus yang sengaja gue tajamkan.

Lintang mendongak. Ada jeda diam yang cukup panjang di antara kami. Dia menatap gue dengan sorot mata yang sulit diartikan—ada rasa bersalah, tapi ada juga sisa kelelahan yang dalam.

"Gue gak bisa buang begitu aja, Ki. Ini... ini bagian dari tujuh tahun hidup gue juga," Lintang berdehem pendek, memotong kalimatnya sendiri seolah tenggorokannya mendadak kering. Dia meraih cangkir kopinya, tapi hanya memegangnya tanpa meminumnya. "Elena... Elena cerita kalau dia ketemu lo di kantor kemarin. Dia bilang lo sangat profesional."

Lihat selengkapnya