Aroma melati segar dan uap dari pemanas hidangan prasmanan langsung menyergap begitu gue melangkah melewati gerbang lengkung dekorasi. Ruang auditorium hotel di daerah Jakarta Selatan ini dipenuhi ratusan orang yang mengenakan batik dan kebaya. Musik gamelan Jawa beralun pelan dari pengeras suara, beradu dengan riuh rendah obrolan para tamu dan denting sendok yang menyentuh piring porselen.
Gue merapikan lipatan kain lilit gue, lalu ikut mengantre di barisan panjang menuju pelaminan. Di depan gue, ibu-ibu bersanggul tinggi sibuk mengobrol tentang macetnya jalan tol fungsional akhir pekan ini. Gue memilih diam, menatap ujung sepatu hak tahu gue yang bersih, sesekali membetulkan letak tas kecil di pundak.
Antrean bergerak merayap. Langkah demi langkah membawa gue semakin dekat ke undakan pelaminan yang didekorasi dengan untaian bunga putih dan daun-daun hijau segar.
Di atas sana, Lintang berdiri dengan beskap hitam beludru yang pas di badannya. Blangkonnya terpasang rapi, membuat wajahnya kelihatan bersih. Tidak ada lagi sisa lelah dari dinas lapangan proyek atau noda oli yang biasa gue lihat di pipinya. Di sebelahnya, Elena tampil sangat anggun dengan kebaya kutubaru putih gading. Sanggul klasiknya dihiasi ronce melati yang menjuntai sampai ke dada. Mereka kelihatan serasi, seperti dua orang yang memang diciptakan untuk berada di atas panggung itu.
Gue menarik napas pendek melalui hidung, lalu mengembuskannya perlahan saat giliran gue tiba untuk naik ke undakan pelaminan.
Elena yang pertama kali melihat gue. Matanya sedikit berbinar, dan senyum ramahnya langsung terulas tanpa beban. Dia mengulurkan kedua tangannya, menyambut jabat tangan gue dengan hangat. Bau parfum melatinya yang mahal kembali tercium, sama seperti saat kami bertemu di ruang rapat tiga tempo hari.
"Mbak Kiara," Elena menggenggam tangan gue sekilas, suaranya tulus di antara kebisingan ruangan. "Makasih banyak ya, Mbak, udah menyempatkan datang di hari sabtu begini."