Hampir Sampai

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #13

Hampir Sampai

Meja baru gue di dekat jendela besar lantai empat belas menghadap langsung ke arah jembatan layang Slipi. Siang ini, langit Jakarta berwarna abu-abu pucat, tipikal cuaca yang menggantung pasrah menjelang peralihan musim.

Gue menaruh pot kaktus kecil yang baru gue beli kemarin di sebelah tempat pensil. Setelah itu, gue menyusun tiga map laporan audit triwulan dari PT Handoko Logistik Utama yang sudah selesai gue tanda tangani tanpa ada satu pun catatan spidol merah di atasnya. Berkas itu bersih, rapi, dan siap dipindahkan ke ruang arsip utama.

"Ki, ini ada sisa siomay dari kubikel seberang. Mau gak?" Nining muncul dari balik sekat, menyodorkan sebuah kotak mika plastik kecil yang masih beruap.

Gue mendongak, menatap wajah Nining yang siang ini kelihatan lelah karena urusan rekonsiliasi data. Gue mengulas senyum tipis, lalu meraih kotak mika itu. "Mau, Ning. Kebetulan gue belum sempat makan siang. Makasih ya."

Nining agak tertegun, matanya berkedip dua kali melihat respons gue. Dia seperti tidak menduga gue akan menerimanya secepat itu, tanpa ada komentar sinis seputar kalori atau jam istirahat yang molor. "Sama-sama, Ki. Tumben lo santai hari ini."

"Gue emang harus banyak belajar santai, Ning," kata gue, suara gue rendah tapi konstan. "Maaf ya... buat yang kemarin-kemarin. Gue terlalu kaku sama lo."

Nining terpaku di tempatnya selama beberapa detik. Detik berikutnya, sebuah tawa renyah yang lepas keluar dari mulutnya, membuat ketegangan profesional di antara kubikel kami mencair sepenuhnya. "Gila, lo kesambet apaan, Ki? Tapi ya... dimaafin kok. Yang penting jangan galak-galak lagi mulai besok Senin."

Dia melambaikan tangannya santai lalu kembali ke mejanya sendiri. Gue menatap punggung Nining, lalu beralih menatap siomay di meja. Angin AC kantor berembus pelan, menerpa permukaan kulit lengan gue. Dada gue rasanya tidak lagi sesempit minggu lalu. Ada ruang baru yang pelan-pelan melebar di sana, ruang yang gue bangun dengan cara menurunkan ego gila kontrol gue satu senti demi satu senti.

Gue pulang ke kosan pukul delapan malam. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan kaus longgar, gue duduk di pinggir tempat tidur.

Lihat selengkapnya