Udara malam Bandung selalu punya cara untuk bikin permukaan kulit jadi meremang. Di kamar kosan baru gue di daerah Dipati Ukur, bau cat tembok putih yang baru selesai dikerjakan dua hari lalu masih menguar kuat, beradu dengan aroma kayu dari lemari pakaian dua pintu yang ditaruh di dekat kamar mandi.
Gue berlutut di lantai tegel yang dingin, membuka ritsleting koper kain hitam besar yang tergeletak di tengah ruangan.
Satu per satu barang gue pindahkan ke atas kasur tunggal tanpa seprai. Tiga pasang kemeja kerja, beberapa potong celana bahan, alat mandi, dan sebuah teko listrik kecil berukuran setengah liter. Kosan ini sedikit lebih luas daripada kosan gue di Jakarta dulu, ada jendela kaca besar yang kalau dibuka langsung menghadap ke arah jalanan menanjak dan deretan pohon mahoni.
Tangan gue meraih bagian kompartemen paling bawah koper. Jari-jari gue menyentuh permukaan kardus yang familier. Kotak sepatu bekas berwarna cokelat itu ikut gue bawa, terselip di antara tumpukan jaket wol.
Gue sempat terdiam selama beberapa detik sambil memegangi tepian kotak itu. Dada gue tiba-tiba terasa agak ampas, ada denyut halus yang samar dari luka lama yang ternyata belum mengering sepenuhnya. Kemarin sore, saat masih di travel menuju kota ini, gue sempat melihat seorang cowok berjaket flanel sedang membetulkan rantai motor bebeknya yang lepas di pinggir jalan tol. Hanya melihat siluetnya dari balik kaca mobil yang melaju kencang, jantung gue sempat mencos turun selama beberapa menit.
Gue mengembuskan napas pendek. Proses ini ternyata memang gak pernah linear. Ada hari-hari di mana gue ngerasa bener-bener oke dan menang, tapi ada juga malam-malam acak seperti sekarang, di mana rasa sepi dan sisa ingatan tujuh tahun itu mendadak datang lagi tanpa permisi, bikin mata gue sempat panas sebentar saat menatap dinding kamar yang asing.
Gue memilih tidak membuka kotak itu malam ini. Gue hanya mengangkatnya, lalu menyelipkannya ke kolong tempat tidur yang paling dalam, membiarkannya beristirahat di sana bersama debu.