Lula pertama kali sadar ada yang aneh dengan hubungannya dan Akbar saat ia kesulitan menjawab satu pertanyaan sederhana.
“Kalian pacaran?”
Pertanyaan itu muncul di sela jam istirahat, saat Lula dan Akbar duduk berdampingan di bangku panjang dekat kantin. Akbar sedang membuka bungkus roti, sementara Lula sibuk mengaduk es teh yang sudah hampir mencair.
Lula menoleh ke arah Akbar.
Akbar tidak menoleh balik.
“Enggak,” jawab Lula akhirnya, terlalu cepat.
Lalu, entah kenapa, ia menambahkan, “Kayaknya.”
Akbar tersenyum kecil. Bukan senyum yang hangat, tapi juga bukan yang dingin. Senyum yang selalu berhasil membuat Lula bingung: senyum orang yang merasa aman berada di dekatmu, tapi tidak cukup berani untuk tinggal.
Sejak hari itu, Lula sering memikirkan satu hal:
kalau bukan pacaran, lalu apa?
Akbar selalu ada. Itu faktanya.
Pagi-pagi, pesan pertamanya hampir selalu muncul lebih dulu di layar ponsel Lula.
Udah bangun? Jangan lupa sarapan.
Kadang disusul foto langit. Kadang cuma titik tiga yang tak pernah jadi kalimat. Tapi kehadirannya konsisten—lebih konsisten daripada beberapa hal lain dalam hidup Lula.
Mereka pulang bersama. Duduk berdampingan di kelas. Berbagi earphone. Akbar tahu Lula tidak suka kopi terlalu pahit, dan Lula tahu Akbar selalu menyimpan permen di tasnya untuk saat kepalanya tiba-tiba pusing.
Hal-hal kecil.
Hal-hal yang terlalu personal untuk disebut kebetulan.
Tapi setiap kali Lula nyaris berharap lebih, Akbar selalu menarik satu langkah ke belakang. Selalu ada jarak tipis yang tak bisa dilewati.