Lula mulai hafal rutinitas yang tidak pernah ia rencanakan.
Bangun pagi, mengecek ponsel sebelum benar-benar sadar. Bukan karena alarm, tapi karena satu nama yang hampir selalu muncul lebih dulu di layar.
Akbar.
Pesannya jarang panjang. Bahkan sering kali sepele.
Udah bangun?
Sarapan jangan lupa.
Hari ini panas, jangan lupa minum.
Kalimat-kalimat yang, kalau dipikir-pikir, bisa dikirim siapa saja. Tapi entah kenapa, kalau Akbar yang mengirimkannya, dada Lula selalu terasa sedikit lebih ringan.
Ia pernah mencoba tidak membalas cepat. Sengaja menaruh ponsel di meja, membiarkannya bergetar tanpa ia sentuh. Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit.
Akhirnya ia menyerah.
Karena rasa penasaran jauh lebih kuat daripada gengsi.
Dan begitu ia membalas, Akbar hampir selalu membalas lagi. Seolah menunggu.
“Ini nggak normal,” gumam Lula pada dirinya sendiri suatu pagi, sambil menatap layar ponsel yang kembali menyala.
Tapi ia juga tidak berusaha menghentikannya.
Di sekolah, Akbar tidak pernah terang-terangan menunjukkan apa pun. Tidak menggenggam tangan Lula di depan orang lain. Tidak memeluk. Tidak juga memberi tanda kepemilikan yang bisa diperdebatkan.
Ia hanya… ada.
Duduk di sebelah Lula di kelas tanpa perlu diminta. Menyimpan kursi untuknya. Menggeser tasnya agar Lula bisa duduk lebih dekat ke meja. Hal-hal kecil yang nyaris tak terlihat, tapi terasa.
“Lula, kamu sama Akbar itu sebenernya apa sih?” tanya Nira, sahabatnya, suatu siang.
Mereka sedang duduk di lantai koridor, berbagi bekal. Nira menatap Lula dengan sorot mata penasaran yang tidak bisa disembunyikan.
Lula mengangkat bahu. “Teman.”
Nira mendengus. “Teman apaan ngingetin makan, nungguin pulang, sama cemburu kalau kamu ngobrol sama cowok lain?”
Lula tersedak minumannya. “Dia nggak cemburu.”
“Oh ya?” Nira menaikkan alis. “Kemarin pas kamu duduk sama anak kelas sebelah, siapa yang tiba-tiba dateng terus bilang, ‘Lula, bukannya kamu mau ke perpustakaan sama aku?’”
Lula terdiam.
Ia ingat kejadian itu. Akbar muncul tanpa ekspresi marah, tapi tatapannya dingin. Dan setelah itu, sepanjang perjalanan ke perpustakaan, Akbar lebih banyak diam.
“Lihat kan?” lanjut Nira. “Kalau bukan pacar, ngapain ribet?”
Pertanyaan itu menggantung lama di kepala Lula.
Ngapain ribet?