Hampir, Tapi Tak Pernah

Bear Winter
Chapter #3

Bab 3 — Yang Datang dengan Nama

Lula selalu percaya, kalau sesuatu memang ditakdirkan untuknya, maka rasa cemas tidak akan datang lebih dulu.

Namun pagi itu, rasa sesak justru muncul sebelum ia benar-benar sadar.

Ia melihat Akbar dari kejauhan—berdiri di depan kelas, tersenyum kecil, bukan ke arahnya. Di samping Akbar, ada seorang perempuan yang belum pernah Lula lihat sebelumnya. Rambutnya panjang, tergerai rapi, dengan seragam yang disetrika terlalu sempurna untuk sekadar hari biasa.

Perempuan itu tertawa. Akbar ikut tertawa.

Ada jarak yang berbeda. Bukan jarak fisik, tapi sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang terbiasa memperhatikan.

Lula melangkah masuk kelas dengan langkah pelan. Biasanya, Akbar akan langsung menoleh. Biasanya.

Hari ini tidak.

Ia duduk di bangkunya, menaruh tas, lalu berpura-pura sibuk membuka buku. Dari sudut matanya, ia melihat Akbar akhirnya duduk—tidak di sampingnya, tapi satu bangku di depan, masih dekat dengan perempuan itu.

“Pagi,” sapa Akbar singkat, menoleh setengah.

“Pagi,” jawab Lula, berusaha terdengar biasa.

Akbar kembali ke percakapannya. Lula tidak mendengar jelas apa yang mereka bicarakan, hanya tawa kecil yang sesekali muncul.

Dan entah kenapa, setiap tawa itu terasa seperti pengingat bahwa Lula bukan satu-satunya dunia Akbar.

Jam pelajaran berjalan lambat. Terlalu lambat untuk hati yang terus bertanya-tanya.

Siapa dia?

Sejak kapan?

Dan kenapa aku baru tahu sekarang?

Saat bel istirahat berbunyi, perempuan itu berdiri lebih dulu. Akbar ikut berdiri.

“Lula,” panggilnya.

Lula menoleh.

“Kenalin,” kata Akbar santai, “ini Nadine.”

Perempuan itu tersenyum, mengulurkan tangan. “Hai.”

“Hai,” balas Lula, menjabat tangannya. Telapak tangan Nadine hangat. Percaya diri.

“Kalian sekelas?” tanya Nadine.

“Iya,” jawab Lula singkat.

Akbar tersenyum kecil. “Nadine anak pindahan. Baru masuk minggu ini.”

“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulut Lula.

Mereka bertiga berjalan keluar kelas. Entah sejak kapan, Lula merasa langkahnya selalu tertinggal setengah meter di belakang.

Di kantin, Akbar duduk berhadapan dengan Nadine. Lula duduk di samping, posisi yang biasanya miliknya sendiri—tapi kini terasa seperti kursi tambahan.

“Kamu suka teh manis atau es kopi?” tanya Akbar pada Nadine.

“Teh manis,” jawab Nadine tanpa ragu.

Akbar mengangguk, lalu bangkit. “Tunggu sebentar.”

Lihat selengkapnya