Hampir, Tapi Tak Pernah

Bear Winter
Chapter #4

Bab 4 — Akbar (POV)

Aku tidak pernah bermaksud melukai Lula.

Masalahnya, aku juga tidak pernah cukup berani untuk memilihnya.

Sejak awal, aku tahu Lula berbeda. Ia hadir tanpa banyak tuntutan, tanpa bertanya aku siapa dan mau ke mana. Ia datang seperti pagi—tidak pernah memaksa matahari untuk segera muncul, tapi selalu ada.

Dan mungkin di situlah kesalahanku.

Aku terlalu nyaman.

Lula selalu ada di bangku yang sama, dengan senyum yang tidak pernah berubah meski dunia sedang tidak ramah padanya. Ia mendengarkan ceritaku tentang hal-hal kecil—tentang dosen menyebalkan, tentang mimpi-mimpi setengah matang, tentang ketakutanku gagal jadi apa-apa.

Ia tidak pernah menertawakan mimpiku. Tidak pernah membandingkan.

Aku suka itu.

Aku suka dia.

Tapi suka tidak selalu cukup untuk membuat seseorang berani.

Aku tahu orang-orang mengira aku dan Lula pacaran. Aku membiarkannya. Aku juga tidak menyangkal. Diamku adalah zona aman—aku tidak harus berkomitmen, tapi juga tidak sendirian.

Sampai Nadine datang.

Nadine berbeda. Ia terang. Pasti. Seolah tahu apa yang ia mau, dan tidak takut mengatakannya. Dari pertemuan pertama, ia bertanya langsung, “Kamu single?”

Aku tertawa kecil waktu itu. “Iya.”

Dan itu tidak bohong.

Aku memang tidak pernah menjadikan Lula apa-apa. Tidak pernah memberi nama pada hubungan yang kami jalani hampir setiap hari.

Aku pikir aku punya waktu.

Aku pikir Lula akan selalu menunggu di tempatnya.

Hari pertama Nadine duduk di kelas, aku melihat Lula dari sudut mataku. Cara ia terdiam lebih lama dari biasanya. Cara senyumnya terasa dibuat-buat.

Aku melihatnya.

Dan tetap memilih diam.

Karena aku pengecut.

Lihat selengkapnya