Pagi itu, Lula bangun tanpa alarm.
Tidak ada rasa panik karena terlambat, tidak ada dorongan untuk segera mengecek ponsel. Ia hanya menatap langit-langit kamar, mendengarkan suara kipas yang berputar malas, dan menyadari satu hal sederhana:
ia tidak lagi menunggu siapa pun.
Biasanya, sebelum benar-benar membuka mata, ia akan mengecek pesan dari Akbar. Entah hanya “pagi” singkat, atau keluhan kecil tentang hari yang akan dijalani. Pagi itu, layar ponselnya gelap. Tidak ada notifikasi. Dan anehnya, itu tidak menyakitkan seperti yang ia bayangkan.
Hanya kosong.
Lula bangkit, mandi, dan bersiap seperti biasa. Namun setiap gerakannya terasa lebih lambat. Seolah tubuhnya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan baru—bahwa rutinitasnya kini tidak lagi melibatkan satu nama tertentu.
Di depan cermin, ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya sama. Rambutnya sama. Tapi ada sesuatu yang berubah di matanya.
Tidak lagi berharap.
Di kampus, Lula memilih duduk di bangku yang berbeda. Jauh dari tempat biasa. Jauh dari jalur pandang Akbar.
Ia membuka buku catatan, menyalin materi dengan rapi, meski pikirannya tidak sepenuhnya hadir. Sesekali, tawa kecil terdengar dari arah depan kelas—tawa yang kini ia kenal, dan pelan-pelan ia pelajari untuk tidak lagi menoleh ke arahnya.
Saat istirahat, Nira duduk di sebelahnya.
“Kamu pindah tempat?” tanya Nira pelan.
“Iya,” jawab Lula singkat.
“Kenapa?”
Lula menutup bukunya. “Capek duduk di tempat yang sama.”
Nira tidak bertanya lagi. Ia mengerti bahwa beberapa jawaban tidak perlu dikorek lebih dalam.
Hari itu, Akbar tidak menyapanya. Bukan karena tidak mau—tapi karena Lula tidak memberinya ruang.
Ia tidak menoleh. Tidak mencari. Tidak mengirim pesan.
Dan itu membuat Akbar gelisah.
Lula tahu, karena ia melihatnya dari kejauhan. Cara Akbar sesekali melirik. Cara ia terlihat ragu setiap kali ingin mendekat.