Hampir, Tapi Tak Pernah

Bear Winter
Chapter #7

Bab 7 — Terlambat

Akbar baru benar-benar menyadari kehilangan saat semuanya terasa terlalu tenang.

Bukan karena Lula menghilang.

Justru karena ia tetap ada.

Ia masih datang ke kampus. Masih duduk di kelas. Masih tersenyum jika berpapasan. Tapi tidak ada lagi ruang yang disediakan khusus untuknya.

Dan itu lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Dulu, sekecil apa pun hal yang terjadi dalam hidup Akbar, Lula selalu jadi orang pertama yang tahu. Sekarang, bahkan ketika ia ingin bercerita, ia tidak tahu harus memulai dari mana.

Ia pernah berpikir bahwa kehilangan berarti ditinggalkan.

Ternyata tidak.

Kehilangan juga bisa berarti seseorang tetap di tempatnya—hanya saja hatinya tidak lagi di sana.

Hubungannya dengan Nadine berjalan… normal. Tidak buruk. Tidak juga istimewa. Mereka tertawa. Pergi bersama. Kadang belajar bareng.

Tapi ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Kosong.

Nadine bukan orang yang salah. Ia terang, percaya diri, tahu apa yang ia mau. Tapi Nadine tidak pernah benar-benar mengenalnya seperti Lula.

Nadine tahu sisi luarnya. Lula tahu sisi retaknya.

Suatu malam, setelah mengantar Nadine pulang, Akbar duduk lama di atas motornya sebelum menyalakan mesin. Tangannya menggenggam ponsel.

Refleks.

Ia membuka chat Lula.

Terakhir kali mereka berbicara, Lula menjawab singkat. Sopan. Berjarak.

Tidak ada lagi kalimat panjang. Tidak ada lagi perhatian kecil yang dulu terasa biasa.

Akbar mengetik.

Lula, kamu sibuk?

Ia menatap pesan itu lama sebelum mengirimnya.

Terkirim.

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

Lagi ngerjain tugas. Kenapa?

Datar. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat.

Akbar tiba-tiba lupa alasan ia mengirim pesan itu.

Nggak apa-apa. Cuma pengen ngobrol.

Titik tiga muncul. Hilang. Muncul lagi.

Aku lagi fokus dulu ya, Bar.

Lihat selengkapnya