Ada perasaan aneh saat seseorang yang dulu selalu ada, tiba-tiba berhenti menjadikanmu pusat dunianya.
Akbar merasakannya sekarang.
Bukan karena Lula menghilang.
Bukan karena ia memblokir atau menghindar.
Tapi karena Lula tetap bersikap biasa.
Terlalu biasa.
Pagi itu di kampus, seperti biasa Akbar datang lebih awal. Dulu, ia tahu siapa yang akan ia cari pertama kali. Bangku dekat jendela, tas kanvas krem, rambut terikat sederhana.
Sekarang bangku itu kosong.
Bukan karena Lula tidak masuk. Tapi karena ia duduk di barisan depan, bersama kelompok barunya. Tertawa kecil saat berdiskusi, mencatat sesuatu dengan serius.
Akbar berdiri beberapa detik terlalu lama sebelum akhirnya duduk di tempatnya sendiri.
Ia tidak tahu kapan tepatnya posisi itu berubah.
Dulu, jika ia datang terlambat, Lula akan menyisakan kursi. Jika ia lupa membawa catatan, Lula sudah memotretkan materi. Jika ia terlihat lelah, Lula akan bertanya duluan.
Sekarang?
Tidak ada lagi ruang khusus.
Dan untuk pertama kalinya, Akbar merasa… biasa saja di hidup seseorang.
Di sisi lain ruangan, Lula benar-benar sedang fokus.
Awalnya ia hanya mencoba mengalihkan diri. Mengisi hari dengan kesibukan agar pikirannya tidak berputar pada hal yang sama.
Tapi lama-lama, itu bukan lagi pengalihan.
Ia mulai menikmati.
Diskusi kecil dengan teman kelompoknya terasa menyenangkan. Ia menyampaikan pendapat tanpa takut dianggap terlalu banyak bicara. Ia tertawa tanpa memikirkan siapa yang memperhatikannya.
Ada rasa ringan yang dulu tidak ia sadari hilang.
Nira menyenggol lengannya pelan.
“Kamu beda banget sekarang.”
Lula tersenyum. “Beda jelek atau beda bagus?”
“Beda yang… lebih kamu.”
Lula terdiam sesaat.
Lebih dirinya sendiri.
Mungkin itu yang selama ini ia lupakan. Terlalu sibuk menjadi tempat nyaman orang lain sampai lupa menjadi nyaman untuk dirinya.
Siang hari di kantin, situasi yang dulu terasa canggung kini terasa netral.
Akbar duduk bersama Nadine. Lula duduk dua meja dari mereka, bersama teman-teman barunya.
Tidak ada tatapan mencuri lagi dari Lula. Tidak ada wajah yang langsung berubah saat melihatnya tertawa dengan Nadine.
Dan justru itulah yang membuat dada Akbar terasa sesak.
Ia sempat tertawa saat Nadine menceritakan sesuatu. Tapi di tengah tawa itu, matanya tanpa sadar mencari.
Dan ia menemukannya.
Lula sedang tertawa lepas. Bukan senyum tipis. Bukan sopan. Tapi tawa yang benar-benar hidup.
Dan bukan karena dirinya.
Ada sesuatu yang jatuh di dalam diri Akbar saat itu.
Dulu, ia yakin Lula akan selalu ada di orbitnya. Tidak peduli sejauh apa ia bergerak, Lula tetap mengelilinginya.
Sekarang, ia melihat dengan jelas—Lula sudah punya poros sendiri.