Hampir, Tapi Tak Pernah

Bear Winter
Chapter #9

Bab 9 — Perempuan yang Selalu Ada Sebelum Aku (POV Nadine)

Nadine bukan tipe perempuan yang mudah merasa terancam.

Sejak kecil, ia terbiasa berdiri di tengah ruangan dan tahu dirinya terlihat. Ia tahu cara berbicara, cara tertawa, cara membuat orang nyaman. Ia tidak pernah harus bersaing untuk diperhatikan.

Sampai ia bertemu Lula.

Awalnya, Lula bukan siapa-siapa baginya. Hanya satu nama yang sering disebut Akbar dengan nada santai.

“Temen deket.”

“Kita sering bareng.”

“Dia orangnya baik.”

Nadine tidak terlalu memikirkan itu. Semua orang punya teman dekat.

Tapi ada yang berbeda setiap kali nama itu muncul.

Nada suara Akbar selalu berubah sedikit. Lebih lembut. Lebih… hati-hati.

Dan Nadine cukup peka untuk menyadarinya.

Pertama kali ia benar-benar memperhatikan Lula adalah di kantin. Perempuan itu duduk tidak jauh dari mereka, berbicara dengan teman-temannya.

Sederhana. Tidak mencolok. Tapi tenang.

Bukan tipe yang mencari perhatian.

Dan mungkin justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.

Nadine melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat pada perempuan lain di sekitar Akbar—sebuah sejarah.

Ada jejak kebiasaan di antara mereka. Cara Akbar tanpa sadar hampir memanggil Lula saat ingin bercanda. Cara ia berhenti sepersekian detik sebelum menyadari Nadine ada di sampingnya.

Itu bukan perasaan. Itu pola.

Dan pola tidak tercipta dalam seminggu.

Malam itu, saat mereka duduk berdua di kedai kopi, Nadine akhirnya bertanya.

“Kamu pernah suka sama Lula?”

Pertanyaannya datar. Tidak emosional.

Akbar terdiam sesaat.

“Kenapa nanya gitu?”

“Jawab aja.”

Hening beberapa detik.

“Dia temen lama.”

Bukan jawaban.

Nadine menatapnya lurus. “Itu bukan yang aku tanya.”

Akbar menghela napas. “Aku… nyaman sama dia.”

Kata itu membuat Nadine tersenyum kecil.

Nyaman.

Lihat selengkapnya